RUU Perlindungan Nelayan Disahkan Maret Ini

Nelayan tradisional bersiap mencari ikan (dok. kotawaringinbaratkab.go.id)
Nelayan tradisional bersiap mencari ikan (dok. kotawaringinbaratkab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Dewan Perwakilan Rakyat berjanji akan mengesahkan RUU Pemberdayaan dan Perlindungan Nelauan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam pada awal bulan Maret mendatang. Ketua Panitia Kerja RUU Perlindungan Nelayan Herman Khaeron mengatakan, saat ini, RUU ini sudah masuk dalam agenda pembahasan di Panitia Kerja (Panja) DPR RI pada 29 Februari mendatang.

DPR RI khususnya, telah menjajikan RUU ini dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam. “RUU Nelayan ini untuk menjamin kesejahteraan dan perlindungan bagi nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam yang selama ini banyak hidup miskin,” kata Herman seperti dikutip kkp.go.id, Rabu (24/2).

Terkait hal ini, Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (Sekjen KKP) Sjarief Widjaja mengaku sangat menyambut baik rencana tersebut. Dia mengatakan, RUU tersebut akan produk hukum sekaligus menjadi payung hukum bagi pemerintah dan berbagai pihak terkait dalam rangka menyejahterakan nelayan, petambak garam, dan pembudidaya ikan.

Menurut Sjarief, laut tetap menjadi sumber daya ikan, lahan kerja, prasarana produksi ikan, dan sumber kekayaan nelayan. Dengan adanya undang-undang ini dapat mendorong terwujudnya kesejahteraan nelayan. “Jadi, pemerintah menyambut positif sebagai payung hukum untuk sejahterakan nelayan,” ungkap Sjarief.

Sjarief juga menjelaskan, jika sekitar 2 juta hektare tambak dikelola dengan baik, maka akan menjadi potensi luar biasa untuk melindungi petambak garam.

Sementara itu, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Riza Damanik mengatakan, kehidupan perekonomian nelayan sangatlah miris. Sekitar 56 persen saja warga Indonesia yang mengonsumsi ikan. Karena itu, Riza pun mengusulkan agar nelayan tradisional Indonesia diberikan kawasan tersendiri untuk mencari ikan.

“Jadi, RUU ini harus mengamankan laut. Jangan sampai seperti pertanian dimana tanah pertanian makin sempit akibat digerus properti, perkantoran, hotel dan sebagainya. Apalagi , pembudi daya ikan dan petambak garam yang dulu mencapai ratusan, kini tinggal 70-an,” jelasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *