Sambangi Raja Ampat, Rainbow Warrior Ingatkan Terumbu Karang yang Terancam

Jakarta, Villagerspost.com – Berlayar ke Raja Ampat, kapal Greenpeace, Rainbow Warrior, ingin menunjukkan betapa pentingnya perlindungan kawasan pulau-pulau kecil dan terumbu karang. Perlindungan tersebut harus dilakukan konsisten baik oleh masyarakat lokal, pemerintah daerah serta pemerintah pusat. Sebab tingkat ancaman perusakan terhadap pulau-pulau kecil serta kekayaan laut di sekitarnya semakin meningkat.

“Greenpeace mendorong pemerintah pusat untuk terus memberikan dukungan terhadap pemerintah daerah dan masyarakat agar pengelolaan serta jejaring kawasan konservasi perairan semakin efektif,” ujar Arifsyah Nasution, Jurukampanye Laut Greenpeace Indonesia.

Pemerintah pusat bisa memberikan dukungan berupa regulasi, serta pengawasan secara intensif bersama dengan pemerintah daerah. Masyarakat lokal juga memiliki peran strategis dalam menjaga ekosistem di darat serta laut. Misalnya, pengambilan ikan dan produk laut lainnya dengan praktik yang memerhatikan keberlanjutan.

“Greenpeace mendukung pengelolaan sumber daya alam di manapun harus menghormati dan mengedepankan aturan dan kesepakatan adat setempat karena sejatinya memiliki nilai-nilai luhur yang universal,” tambah Arifsyah.

Kapal milik Greenpeace, Rainbow Warrior merapat di Raja Ampat (dok. greenpeace)

Kedatangan kapal Rainbow Warrior di Raja Ampat bukan tanpa tujuan. Diharapkan ada solusi tercipta dari rangkaian kegiatan dan diskusi yang diselenggarakan selama di Raja Ampat, untuk menyelesaikan berbagai permasalahan seputar pulau-pulau kecil dan terumbu karang.

Greenpeace melihat ada tiga tantangan utama yang saat ini penting menjadi perhatian seluruh pihak agar kekayaan terumbu karang dan hayati laut di perairan Raja Ampat lestari, yaitu penangkapan ikan merusak, pencemaran sampah plastik, dan dampak perubahan iklim. Terkait terumbu karang, tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana kapal pesiar Caledonian Sky yang kandas hingga akhirnya merusak terumbu karang di sekitar Raja Ampat. “Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” kata Arifsyah.

Luas terumbu karang di Indonesia mencapai 2,5 juta hektare. Sayangnya, berdasarkan data status terumbu karang yang diungkap Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2017 lalu, sekitar 35,15% terumbu karang Indonesia dalam kondisi rusak.

Terumbu karang yang rusak akan sangat sulit kembali pulih. Atau mungkin tidak akan pernah pulih kembali seperti sedia kala. “Laut Indonesia adalah pusat kekayaan hayati terumbu karang terpenting di dunia, di mana ada sekitar 569 jenis karang, maka jangan sampai jumlahnya semakin menyusut, musnah, karena perubahan iklim dan tindakan yang tak bertanggung jawab,” tegas Arifsyah.

Kunjungan Susi Pudjiastuti

Sebelumnya, dalam kunjungan di perairan Sorong, Rainbow Warrior juga mendapatkan kunjungan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Greenpeace sendiri menilai, untuk urusan perlindungan ekosistem laut, Susi telah menunjukkan kinerja yang baik. Sejak menjabat pada 2014, berbagai langkah berani telah Susi lakukan, termasuk dalam upaya memerangi penangkapan ikan secara ilegal dan tidak ramah lingkungan.

Kehadiran kapal kampanye legendaris Greenpeace, Rainbow Warrior ke wilayah Indonesia sendiri merupakan bagian dari kampanye dengan tajuk “Jelajah Harmoni Nusantara”. Papua adalah destinasi pertama dengan Manokwari sebagai tempat pertama yang disinggahi. Kemudian, Rainbow Warrior mengunjungi perairan Sorong, Papua Barat, untuk menyerukan betapa pentingnya perlindungan laut Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti di ruang kemudi Rainbow Warrior (dok. greenpeace)

Hari ini, Minggu (18/3), kapal singgah di kawasan laut Raja Ampat, untuk menyoroti pentingnya perlindungan terumbu karang Indonesia yang sangat kaya. Indonesia merupakan salah satu wilayah terpenting di dunia untuk terumbu karang, mempunyai sekitar 569 jenis terumbu karang.

Greenpeace menegaskan, untuk visi masa depan laut Indonesia, Susi Pudjiastuti dan Greenpeace berada dalam satu perahu. Dalam kunjungannya Sabtu (17/3) pagi, Susi menghabiskan beberapa jam untuk melihat-lihat Rainbow Warrior, serta berdiskusi dengan para awak kapal dan aktivis, termasuk Kapten Hettie Genen, Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara Yeb Sano, dan Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak.

“Ke depan Greenpeace akan tetap punya kampanye ocean yang akan men-tackle isu IUU, human trafficking, overfishing. Kita punya satu contoh representasi kasus terbaru mengenai penyelamatan ABK Indonesia yang terkait human trafficking di Afrika Barat yang sejalan dengan fokus KKP. Greenpeace juga membuka penggunaan kapal-kapal Greenpeace agar bisa dimaksimalkan untuk pengawasan laut kita bersama-sama dengan pemerintah,” kata Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia.

Sementara itu, Susi menegaskan, tidak boleh lagi kapal-kapal asing menjarah laut Indonesia. “Nelayan tradisional, artisanal fishery, alat tangkap yang ramah lingkungan, itu yang boleh beroperasi di laut Papua. Para pengebom ikan juga harus ditindak, ditangkap. Masyarakat Papua tidak boleh skeptis, apatis, diam membiarkan lautnya dirusak dan dijarah oleh orang-orang dari luar Papua,” ucap Susi.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *