Satgas Pangan Tindak 17 Pelaku Bisnis Gula Nakal

Pabrik pengolahan gula kristal putih (dok. bumn.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Satgas Pangan telah menindak 17 pelaku bisnis gula nakal, yang ketahuan melakukan penimbunan gula hingga menjual gula dengan harga tidak wajar sehingga menimbulkan lonjakan harga gula di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp12.500/kg. Kepala Satgas Pangan Irjen Daniel Tahi Monang Silitonga mengatakan, tindakan yang diambil masih sebatas tindakan persuasif.

“Semuanya masih kami perlakukan secara persuasif sebagai pembinaan kepada pelaku bisnis. Yang terpenting adalah barangnya beredar untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dan ada langkah konkret penegakan sanksi. Nanti setelah COVID-19, baru akan kami lakukan tindakan hukum lebih tegas,” tegas Daniel, dalam konferensi pers, saat pelaksanaan operasi pasar Operasi Pasar Gula, di Pasar Jatinegara dan Bekasi, Selasa (26/5).

Dalam kesempatan itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menambahkan, tindakan tegas memang akan terus dilakukan kepada setiap pelaku bisnis gula yang nakal. “Saat ini kami menindak dan memberi sanksi administratif,” katanya.

Sebelumnya, Agus telah mengungkapkan hasil evaluasi sementara, tentang masih tingginya harga gula pasir di masyarakat. Pertama, bergesernya musim giling tebu rakyat yang biasanya dimulai di bulan Maret bergeser menjadi bulan Juni akibat adanya perubahan iklim.

Kedua, adanya mata rantai distribusi yang cukup panjang untuk sampai ke tangan konsumen. Ketiga, ada pelaku bisnis gula nakal baik produsen, distibutor, maupun pedagang di pasar yang terbukti menahan gula dan mempermainkan harga apalagi di tengah kondisi pandemi COVID-19 seperti saat ini.

Keempat, belum maksimalnya realisasi impor oleh pabrik gula berbasis tebu sehingga jadwal produksi dan distribusi gula pasir ke masyarakat mengawali pergeseran jadwal. Pasokan impor gula mentah sebagai bahan baku gula pasir yang semula diperkirakan akan masuk di Indonesia pada Maret dan April 2020 bergeser menjadi Mei dan Juni 2020. Begitu juga impor gula pasir langsung (GKP) oleh Bulog juga baru terealisasi bulan Mei dan Juni 2020. “Menurut evaluasi sementara, pergeseran ini terjadi akibat beberapa negara tujuan impor juga menjalankan lockdown atau karantina wilayah untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Selain itu importir juga kesulitan mencari transportasi angkutan karena adanya protokol kesehatan yang harus diikut di negara asal impor sehingga kondisi memicu pergeseran,” ungkap Agus.

Dengan berbagai permasalahan ini dan menekan laju kenaikan harga gula pasir di masyarakat, Kemendag melakukan lima strategi kunci untuk mengatasinya. Pertama, Pemerintah menugaskan produsen gula rafinasi untuk mengalihkan produksi gula rafinasi menjadi gula konsumsi untuk memenuhi kebutuhan pasar menjelang Puasa dan Lebaran sebesar 250.000 ton.

Kedua, meminta produsen dan distributor untuk memutus mata rantai distribusi yang panjang. “Gula harus bisa langsung didistribusikan ke pasar rakyat dan ritel modern, seperti yang saya tekankan tadi,” tegasnya.

Ketiga, dalam memotong mata rantai distribusi, produsen harus menyalurkan atau menjual gula secara langsung ke pedagang di pasar rakyat dan ke ritel modern. “Penjualan ini terus dikawal dan dimonitoring oleh Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) bersama dengan Satgas Pangan agar harga sesuai HET,” ujar Agus.

Keempat, melakukan OPG langsung untuk menurunkan harga secara signifikan. Operasi pasar dilakukan melalui kerjasama dengan produsen dan distributor gula yang menyalurkan gula secara langsung ke pasar dengan harga sesuai HET Rp12.500/kg.

Kelima, melakukan penindakan kepada pelaku bisnis atau distributor gula yang nakal karena melakukan penyimpangan distribusi gula. Penindakan dilakukan Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) bersama Satgas Pangan.

Mendag Agus meminta insan pers dan seluruh masyarakat juga turut serta bersama Pemerintah memgawasi peredaran komoditi strategis ini agar tetap bisa dijangkau masyarakat. “Untuk itu, saya minta kepada media masa dan seluruh masyarakat Indonesia untuk bersamasama mengawasi perdagangan barang kebutuhan pokok, khususnya gula. Apabila ada indikasi penyimpangan dan penimbunan gula, segera laporkan kepada saya (Kementerian Perdagangan) melalui WA: 085311111010, Selain itu masyarakat juga dapat menghubungi Satgas Pangan,” tegasnya.

Masyarakat juga dapat mengirimkan surel dengan alamat: pengaduan.konsumen@kemendag.go.id, saluran siaga (hotline): 021-3441839, situs web: www.siswaspk.kemendag.go.id, atau datang langsung ke Kementerian Perdagangan.

Sampai saat ini, total jumlah volume Operasi Pasar Gula yang telah dilakukan sebanyak 36.516 ton antara lain di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan (Banten), Bogor dan Bekasi (Jawa Barat), dan seluruh wilayah di DKI Jakarta, Kota dan Kabupaten Malang (Jatim), Bandar Lampung (Lampung), Jambi serta Riau (Kepri).

“Dengan demikian saya pastikan stok gula untuk seluruh wilayah di Indonesia pada masa Lebaran ini sampai masa panen tebu rakyat tiba, dapat dipastikan cukup dan harga terjangkau masyarakat,” ujar Agus.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.