Satu dari Sembilan Orang di Dunia Menderita Kelaparan

Anak-anak di Gaza antre air minum. Kemiskinan di Afrika bisa dihapuskan jika perusahaan negara G7 tak melakukan kecurangan pajak (dok. oxfam)
Anak-anak di Gaza antre air minum. Kemiskinan di Afrika bisa dihapuskan jika perusahaan negara G7 tak melakukan kecurangan pajak (dok. oxfam)

Jakarta, Villagerspost.com – Jumlah orang menderita kelaparan di dunia telah turun sebesar 167 juta orang dalam satu dekade terakhir ini, berdasarkan data terbaru badan pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa FAO (Food and Agriculture Organization). Hanya saja terlepas dari “prestasi” itu, saat ini masih terdapat 795 juta orang lagi yang masih terus menderita kelaparan atau satu dari sembilang orang didunia.

Penasehat masalah Pangan dan Iklim Oxfam Kelly Dent mengatakan, sangatlah menggembirakan mengetahui lebih sedikit anak-anak, perempuan dan laki-laki yang mengalami kelaparan hari ini. “Bagaimanapun kami tetap khawatir kemajuan dalam memerangi kelaparan semakin melambat. Kita tak boleh kehilangan perhatian atas data tahun 2015 bahwa masih ada 795 juta orang di dunia yang tidak cukup mendapatkan makanan, ini merupakan sebuah ketidakadilan dan tidak bisa dimaafkan,” kata Dent dalam surat elektronik yang diterima Villagerspost.com, Kamis (28/5).

Jumlah orang yang menderita kelaparan di kawasan Sub Sahara Afrika telah meningkat mencapai 14,3 juta orang sejak tahun 2010. Dent mengatakan, pemotongan dana bantuan federal sangat tak masuk akal dihadapan fakta meningkatnya kelaparan dan kekurangan gizi di kawasan ini.

Pemerintah Australia telah memangkas dana bantuan sebesar US$193,1 juta untuk kawasan itu sejak ( Perdana Menteri Tony Abbott-red) berkuasa. Pada bulan Mei saja anggaran itu dipangkas 70 persen atau sekitar US$74,2 juta.

Sementara itu negara seperti Vietnam dan China, meningkatnya hasil dengan pesat dalam mengatasi masalah kelaparan bisa dilakukan karena mereka memberikan banyak investasi pada bidang ekonomi pedesaan dan produsen pangan skala kecil.

“Perubahan iklim adalah ancaman utama dalam upaya kita mengatasi masalah kelaparan dan kekurangan gizi dan jika dibiarkan akan membalikkan kemajuan dalam mengurangi kelaparan secara dramatis,” kata Dent menambahkan.

Pekan depan di Bonn, negara-negara termasuk Australia akan bertemu untuk memperbaiki dan mempermudah draf kesepakatan iklim internasional yang akan difinalisasi di Paris akhir tahun ini. “Sebuah kesepakatan iklim internasional yang kuat untuk membatasi kenaikan suhu di bawah dua derajat celcius sangatlah penting jika kita ingin menghindari dampak terburuk perubahan iklim termasuk memperburuk masalah kelaparan diseluruh dunia,” tegasnya.

Juli mendatang, Australia diharapkan akan mengumumkan target mereka untuk periode pasca 2020 dimana kesepakatan iklim yang baru akan mulai berlaku. Dent mengatakan pemerintah Australia harus berkomitmen mengurangi emisi Australia paling tidak sebesar 40 persen di bawah level pada tahun 2000 di tahun 2025 dan setidaknya 60 persen di tahun 2030 dengan rencana untuk mencapai nol emisi bersih secepat mungkin sebelum pertengahan abad ini.

“Kemajuan yang dibuat pemerintah dalam beberapa dekade ke depan menunjukkan bahwa memerangi kelaparan pada tahun 2030 sangat mungkin tetapi hanya jika ada cukup keinginan politik,” ujar Dent.

“Berinvestasi pada produsen skala kecil, memelihara program-program yang melindungi mereka yang menghadapi risiko kelaparan, mengimplementasikan hak atas pangan, menghentikan penguasaan lahan dan mengatasi perubahan iklim sangatlah mendasar untuk mencapai dunia yang bebas kelaparan,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *