Saung Lestari: Pendidikan Adab dan Mimpi Membangun Kawasan Desa Wisata Berbasis Literasi | Villagerspost.com

Saung Lestari: Pendidikan Adab dan Mimpi Membangun Kawasan Desa Wisata Berbasis Literasi

Muklis Riyanto (tengah berbaju batik) sang pendiri Saung Lestari (villagerspost.com/suharjo)

Brebes, Villagerspost.com – Sebagai anak muda, Muklis Riyanto punya satu kegelisahan tersendiri melihat perilaku anak-anak dan kaum muda di Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba, Brebes, terhadap orang yang lebih tua. Dia mengamati, adab atau tata sopan santun anak muda kepada orang tua, menjadi nilai yang saat ini nyaris punah dalam kehidupan sosial masyarakat desa tempat tinggalnya.

Misalnya, saat pergi ke luar rumah, dan orang tua sedang berada di rumah, anak-anak tak lagi melazimkan untuk mengucapkan salam atau pamit sambil mencium tangan orang tua ketika hendak berangkat sekolah. Ketika bermain dengan sesamanya, anak-anak sering mengejek dengan menyebut nama orang tua dan bahkan kalimat seperti (maaf) ‘asu’ yang artinya anjing pun, sering dilontarkan.

“Tidak ada unggah-ungguhnya,” kata Muklis, itu kepada Villagerspost.com, yang mengunjunginya di Desa Bangsri, Senin (12/10) kemarin.

Anggota Saung Lestari berdiskusi dan belajar bersama di saung yang sederhana (villagerspost.com/suharjo)

Prihatin dengan kondisi ini, pemuda kelahiran Brebes, 23 April 1997 itupun, kemudian menggagas berdirinya sebuah tempat dimana anak-anak dan pemuda bisa belajar bersama, menanamkan kembali nilai-nilai adab dan sopan santun, namun dengan cara yang relatif ‘asyik’ dan tidak kaku. Gagasan itu kemudian dituangkan Muklis dengan mendirikan Saung Lestari, pada tanggal 10 Oktober 2019.

Ide Mukhlis sederhana saja, di bawah saung bambu sederhana yang dibangun dengan rangka dari bambu, beratapkan plastik bekas banner, dan beralaskan papan serta tikar plastik itu, anak-anak bisa bermain dan berkumpul bersama. Muklis juga menyediakan buku-buku bacaan dan menggelar kegiatan belajar bersama di saung yang didirikan dengan dana dari kantong pribadinya itu.

Kegiatan belajar disusun sedemikian rupa oleh mahasiswa semester 7 STIMIK Tegal itu, dengan memasukkan juga mata pelajaran tatakrama. Dari hari Senin sampai Sabtu anak-anak Desa Bangsri bisa belajar matematika, bahasa, tatakrama, bahasa Arab, tajwid dan lainnya.

“Hari minggu olahraga, juga bermain permainan tradisional seperti slodor, jangka, dan jublek jublek suweng,” ujar Muklis.

Kegiatan belajar di Saung Lestari dimulai dari jam 7 malam hingga jam 8 malam. “Jadi hanya satu jam. Kecuali hari Minggu, dimulai pagi jam 7 sampai jam 10 pagi,” jelas Muklis.

Pelan tapi pasti, Muklis mulai mampu mengumpulkan anak-anak di desanya untuk belajar dan bermain bersama di Saung Lestari. Seiring waktu, anggota Saung Lestari berkembang hingga mencapai 30 orang.

Untuk koleksi buku, dari awalnya hanya tersedia 30 buku, kini sudah tersedia hingga 1000 buku. “Pemerintah desa juga mendukung, baru saja memberi bantuan buku yang ada di kantor desa kurang lebih 100-an buku,” kata Muklis.

Koleksi buku di Saung Lestari (villagerspost.com/suharjo)

Warga pun mengaku senang dan merasakan manfaat dari berdirinya Saung Lestari ini. “Anak saya dulunya tidak pernah salim ketika keluar rumah. Sekarang dia salim atau pamit, mau pergi juga mengucapkan salam,” kata Robani, yang anaknya ikut belajar di Saung Lestari.

“Kegiatan di sini bermanfaat, karena bisa membantu adik-adik yang sekolah dalam belajar,” kata Mugi, anggota Saung Lestari.

Anggota Saung Lestari lainnya, Farikhatul Khasanah, juga menegaskan, bisa merasakan manfaat saung yang sederhana itu. “Bisa baca-baca lebih dekat, banyak pilihan bacaan. Tempat kumpul kumpul belajar bersama selama pandemi,” ujarnya.

Dia punya harapan agar ke depan Muklis juga menggagas Desa Bangsri menjadi desa wisata berbasis literasi seperti sekolah alam. “Brebes kan sudah menjadi kawasan industri, tidak ada salahnya mengembangkan juga industri pariwisata literasi,” ujarnya.

Laporan/foto: Suharjo, petani muda asal Desa Sidamulya, Brebes, Jawa Tengah

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *