Sawit, Kopi dan Tuna Indonesia Jadi Primadona di Afrika | Villagerspost.com

Sawit, Kopi dan Tuna Indonesia Jadi Primadona di Afrika

Ikan tuna hasil tangkapan kapal perikanan Indonesia diturunkan di pelabuhan (dok. kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Produk minyak sawit, kopi dan ikan tuna Indonesia menjadi primadona di pasar Afrika. Hal itu terungkap dari misi dagang yang dilaksanakan Kementerian Perdagangan ke dua negara Afrika yaitu Tunisia dan Maroko, sejak 24-29 Juni lalu.

Di Maroko, produk-produk ini, bersama beberapa produk lainnya berhasil membukukan transaksi potensial sebesar US$10,96 juta atau sekitar Rp153,50 miliar di Maroko. Dalam misi dagang ke Maroko, Mendag Enggartiasto Lukita membawa 35 pelaku usaha dari 18 perusahaan dari berbagai sektor.

“Misi dagang ke Maroko berhasil mencatatkan transaksi potensial sebesar USD 10,96 juta diperoleh dari one on one business matching. Produk-produk yang diminati adalah minyak kelapa sawit, kopi, minyak esensial, dan rempah-rempah,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Arlinda, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (2/7).

Selain produk-produk tersebut, ada juga produk seperti suku cadang kendaraan, ban kendaraan, dan fesyen yang juga diminati pasar Maroko. Transaksi ini masih akan terus bertambah seiring dengan dicapainya kesepakatan-kesepakatan dagang yang saat ini masih dalam proses negosiasi. “Transaksi di atas belum termasuk potensi transaksi PT PINDAD dengan produk panser Anoa dan Komodo, serta amunisi yang masih dalam perhitungan,” imbuh Arlinda.

Sementara itu dalam misi dagang ke Tunisia yang membawa 22 pelaku usaha Indonesia dari 11 perusahaan dari berbagai sektor, berhasil mencatatkan transaksi potensial sebesar US$2,74 juta atau sekitar Rp37,80 miliar. “Dengan demikian, total transaksi potensial yang tercatat pada misi dagang ke Tunisia dan Maroko yaitu sebesar US$13,70 juta atau sekitar Rp191,30 miliar,” jelas Arlinda.

Hampir sama dengan di Maroko, transaksi terutama berasal dari produk tuna, rempah-rempah, sawit dan kopi. Selain itu ada juga aksesori kamar mandi, dekorasi rumah, dan perhiasan. “Ada potensi transaksi dari misi dagang Tunisia yang masih dalam proses negosiasi yaitu untuk produk kelapa sawit,” imbuh Arlinda.

Keberhasilan misi dagang di Tunisia menunjukkan bahwa ada peluang besar bagi produk-produk unggulan Indonesia untuk diekspor ke Tunisia. “Peluang ekspor bagi produk-produk unggulan Indonesia masih dapat terus dimaksimalkan. Apalagi saat ini Indonesia dan Tunisia sudah memulai perundingan Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA) yang dapat lebih meningkatkan perdagangan kedua negara,” jelasnya.

Sama halnya dengan Tunisia, Maroko dapat menjadi pintu masuk (hub) bagi perdagangan Indonesia ke kawasan Afrika dan Eropa. Demikian juga dengan Indonesia yang dapat menjadi hub bagi perdagangan Maroko ke negara-negara ASEAN.

Total perdagangan Indonesia dengan benua Afrika pada tahun 2017 mencapai US$8,85 miliar. Dari jumlah tersebut, tercatat ekspor nonmigas Indonesia ke Afrika sebesar US$4,86 miliar atau meningkat dibandingkan tahun 2016 yang tercatat sebesar US$4,17 miliar. Sedangkan impor nonmigas Indonesia dari Afrika sebesar US$1,36 miliar atau meningkat dibandingkan tahun 2016 yang tercatat sebesar US$925 juta.

Produk-produk ekspor utama Indonesia ke Afrika yaitu minyak kelapa sawit, karet, makanan dan minuman, kertas, mesin, dan kendaraan bermotor. Sedangkan impor Indonesia dari Afrika yaitu minyak dan gas, kapas, pulp, serta besi dan baja.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *