Sebulan Hantaman Siklon Pam, Air Bersih Masih Menjadi Kebutuhan Utama | Villagerspost.com

Sebulan Hantaman Siklon Pam, Air Bersih Masih Menjadi Kebutuhan Utama

Korban bencana topan Pam di Vanuatu (dok. oxfam.org.au)

Korban bencana topan Pam di Vanuatu (dok. oxfam.org.au)

Jakarta, Villagespost.com – Satu bulan setelah Siklon Pam menghantam Vanuatu, penyediaan air bersih masih menjadi kebutuhan utama dan harus diprioritaskan. Laporan Oxfam menyebutkan, Vanuatu sebagai negara kepulauan sangat menggantungkan persediaan air pada air hujan.

Lembaga bantuan internasional telah berupaya menyuplai air bersih kepada ribuan penduduk untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit. Upaya ini belakangan berubah menjadi upaya untuk menyelesaikan masalah secara berkelanjutan yang dapat dikelola oleh masyarakat.

Chief Eksekutif Oxfam Australia Dr. Helen Szoke mengatakan, rakyat Vanuatu telah menunjukkan kemampuan daya tahan yang luar biasa dan fokus untuk mengembalikan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri secepat mungkin. “Siklon Pam menghancurkan tangki air sepanjang beberapa kilometer di beberapa area dan mengkontaminasi sumber air termasuk sumur,” kata Szoke lewat siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (15/4).

Seminggu setelah serangan angin topan itu, Oxfam, kata Szoke telah mengirimkan 150.000 liter air untuk pertolongan pertama kepada masyarakat di Pulau Efate untuk memenuhi kebutuhan penting mereka. “Kami juga telah memompa sumur yahg terkontaminasi dan mengisi ulangnya dengan air bersih di Pulau Ambrym, termasuk satu di sekolahan. Fase berikutnya adalah memulihkan sistem pengairan dan mendistribusikan pipa, pompa dan kain terpal untuk membantu menampung air hujan,” ujar Szoke.

Untuk terus memerangi ancaman penyebaran penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, Oxfam juga telah mendistribusikan peralatan higienis. Peralatan itu telah menjangkau sepertiga populasi di Pulau Ambrym.

Siklom Pam menghantam Vanuatu pada hari Jumat 13 Maret silam, menghancurkan seluruh kawasan kepulauan dengan kecepatan angin mencapai 250 kilometer per jam. Lebih dari 13.000 rumah mengalami kerusakan dan penghidupan masyarakat mengalami kehancuran.

“Dengan 80 persen populasi bergantung pada produksi pertanian sebelum terjadinya angin topan, ada kebutuhan mendesak agar tanaman-tanaman pangan bisa ditanam kembali. Penanaman kembali sangat penting untuk menjamin keamanan pangan jangka panjang, jadi kami menyediakan bibit dan juga peralatan,” kata Dr. Szoke. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *