Sekolah Setu: Mengamati Reptil, Mengungkap Kualitas Ekosistem Setu Citongtut

Peserta Sekolah Setu, mendapatkan pengarahan dari fasilitator seebelum mengamati keberadaan reptil di kawasan Setu Citongtut (dok. nastari)

Bogor, Villagerspost.com – Yayasan Tunas Tani Mandiri (Nastari) menggandeng beberapa lembaga lain menggelar program “Sekolah Setu”. Lewat sekolah ini diharapkan, masyarakat yang tinggal di sekitaran setu atau danau, mampu mengamati kondisi ekosistem danau sehingga dapat mengetahui apakah kondisi danau masih sehat atau tercemar.

Untuk program pertama, Sekolah Setu digelar bagi masyarakat sekitar Setu Citongtut, Desa Cicadas, Gunungputri, Kabupaten Bogor. Fasilitator Sekolah Setu Citongtut Wahyu Ridwan Nanta (25) mengatakan, Sekolah Setu di Citongtut telah memasuki pertemuan yang kedua.

Pertemuan kedua yang dilaksanakan pada Sabtu (14/8) itu, mengambil tema. “Keragaman Hayati sebagai Bio-indikator Ekosistem Setu”. Dengan tema itu, para peserta, diajak untuk mengetahui kualitas ekosistem Setu Citongtut dari keberadaan herpetofauna (binatang melata dari jenis amfibi dan reptil) yang ditemukan di sekitaran setu.

“Dalam pertemuan kedua ini, peserta langsung diajak melakukan pengamatan pada malam hari,” ujar Nanta kepada Villagerspost.com.

Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 sampai dengan pukul 22.30 WIB, yang dihadiri oleh 15 orang peserta yang berasal dari anggota Komunitas Pungut Sampah (GPS), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), remaja sekitar Desa Cicadas dan sejumlah komunitas yang ada di Desa Cicadas.

Selain peserta, dalam pertemuan ini juga hadir pemandu dari Pemerhati Herpetofauna Himpunan Mahasiswa Konservasi Fauna IPB (Himakova IPB) dan difasilitasi oleh Yayasan Nastari. Dalam kesempatan itu, Nanta selaku fasilitator, memberikan pengantar kepada peserta Sekolah Setu mengenai apa saja yang akan dilakukan oleh peserta sekolah dalam pengamatan keragaman hayati herpetofauna.

Usai melakukan pengamatan, peserta melakukan diskusi yang dipandu oleh fasilitator (dok. nastari)

Selanjutnya, Nanta membagi para peserta menjadi dua kelompok dengan konsentrasi pengamatan herpetofauna pada dua jalur di sekitaran setu. Masing-masing kelompok melakukan diskusi persiapan yang dipandu oleh fasilitator dan pemandu. “Peran pemandu untuk menemani peserta dalam menentukan metode pengamatan herpetofauna,” terang Nanta.

Metode pengamatan herpetofauna yang dilakukan adalah dengan jelajah bebas menyusuri tepian sempadan setu. Peralatan seperti headlamp atau senter, tongkat tangkap ular, dan kantong plastik dibawa oleh para peserta untuk dapat membantu dalam pengamatan.

“Dalam pengamatan ini peserta sekolah harus memperoleh temuan dari keberadaan herpetofauna yang dapat berupa specimen, foto dan rekaman suara,” jelas Nanta.

Peserta akan mengambil specimen jika memungkin binatang tersebut dapat ditangkap dan tidak membahayakan bagi peserta. Jika temuan binatang tidak dapat ditangkap atau bahaya untuk ditangkap, maka peserta dapat merekam suaranya atau dengan memfoto.

Dari hasil temuan yang telah didapatkan, peserta kembali ke lokasi awal dan kemudian melakukan pengamatan yang lebih mendetail dari binatang herpet yang telah ditemukan. Peserta menuliskan beberapa hal dari fauna yang ditemukan yaitu, nama, lokasi ditemukannya dan manfaat atau bahaya untuk ekosistem dari keberadaan fauna-fauna tersebut.

Setelah selesai pengamatan mendetail, masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya di hadapan peserta lainnya. “Setelah masing-masing kelompok presentasi, berikutnya adalah pengayaan dan pendalaman yang disampaikan oleh pemandu,” ujar Nanta.

Hasil temuan pengamatan, para peserta menemukan beragam jenis herpetofauna meliputi cicak batu (Cyrtodactilus marmoratus), katak pohon bergaris (Polypedates leucomystax), dan kodok puru hutan (Ingephrynus biporcatus). Kemudian ada pula kodok budug (Duttaprynus melanostictus), kodok purubesar (Phrynoides aspera), dan londok (Calotes versicolor).

Mayoritas jenis tersebut ditemukan di pohon dengan jarak antara 5-100 m dari setu. Penemuan reptil maupun amfibi ini menurut Refi dan Rezky yang berasal dari Kelompok Pemerhati Herpetofauna Himakova IPB, belum bisa menjadi indikator bagaimana kondisi setu saat ini.

“Sehingga perlu dilakukan pengamatan berkala yang bisa dilakukan secara mingguan maupun bulanan,” kata Refi.

Hanya saja, ujar dia, ada temuan yang menunjukkan adanya dominasi salah satu jenis reptil yang ada di sekitaran setu, yaitu londok. Dari temuan peserta maupun dari pengamatan pemandu, populasi jenis reptil ini sangat melimpah di setu Citongtut, padahal jenis londok bukanlah jenis asli bogor dan Indonesia.

Londok merupakan jenis “spesies alien” alias spesies yang diintroduksi dari kawasan di luar habitat asli. Rezky mengatakan, spesies ini pertama kali ditemukan oleh LIPI pada sekitar tahun 2005-an.

Membludaknya populasi londok dapat menekan keberadaan reptil lainnya, termasuk keberadaan bunglon surai yang dapat berubah warna. “Keberadaan ini tentu harus menjadi perhatian bagi warga sekitar dan para pihak untuk dapat menstabilkan populasi londok alien ini,” jelas Rezky.

Anggota Komunitas GPS, Adit menuturkan, meskipun kondisi sekitar Setu Citongtut yang berada di tengah pemukiman penduduk dan industri, namun masih ditemukan beberapa spesies yang termasuk herpetofauna. Ini menandakan kawasan setu masih dalam kondisi yang lumayan baik.

Nanta sebagai fasilitator dari Nastari juga mengungkapkan, sebenarnya pengetahuan mengenai jenis-jenis herpetofauna telah dimiliki warga. “Pada kesempatan Sekolah Setu kedua ini lebih menguatkan pengetahuan tersebut dan memberikan pengayaan serta pendalaman melalui proses-proses pengamatan, diskusi dan mendengarkan paparan dari pemandu,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Badan Usaha Milik Desa Cicadas (BUMDes Cicadas) Wawan menjelaskan, pengamatan herpetofauna mampu memberikan wawasan terkait rantai makanan khususnya yang ada di sekitar Setu Citongtut. “Lewat pengamatan ini kita juga bisa mengetahui apa arti penting dari keberadaan masing-masing jenis, ini baru dan menyenangkan,” tegasnya.

Ilyas dari PT Tirta Investama pada kesempatan setelah Sekolah Setu berjalan menyampaikan, insiatif lokal ini harus terus berjalan agar masyarakat semakin siap untuk mengelola setu menjadi yang lebih lestari dan produktif. “Kami (PT Tirta Investama-red)) senang bisa berkontribusi dalam hal ini,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *