Serangan Wereng Meningkat, Anggota GPN Diimbau Bantu Sesama Petani Mengatasinya

Hamparan sawah terkena serangan wereng coklat (dok. litbang pertanian kementerian pertanian)
Hamparan sawah terkena serangan wereng coklat (dok. litbang pertanian kementerian pertanian)

Bogor, Villagerspost.com – Ketua Gerakan Petani Nusantara Dr. Ir. Hermanu Triwidodo mengatakan, saat ini serangan organisme penggangu tanaman (OPT) seperti hama wereng batang coklat (WBC), penyakit kresek dan busuk leher semakin meningkat. Peningkatan ini, kata Hermanu, tidak terlepas dari terjadinya musim kemarau basah (kemarau dengan curah hujan tetap tinggi) yang diprediksi akan berlangsung akan berlangsung antara Oktober 2016-September 2017.

Terkait hal ini, Hermanu menilai, praktik budidaya pertanian ekologis atau ramah lingkungan yang diterapkan para anggota GPN sudah tepat. “Tindakan preemptif yang dilaksanakan oleh petani GPN mampu menghindarkan tanaman padi dari serangan tersebut,” ujarnya kepada Villagerspost.com, Sabtu (18/2).

(Baca Juga: MUSIM KEMARAU BASAH, PERTANIAN EKOLOGIS JAWABANNYA)

Meski begitu, kata Hermanu, anggota GPN diminta tidak berpuas diri. Pasalnya, masih banyak saudara-saudara petani lain yang lahannya terserang OPT tersebut. Karena itu, dia mengimbau agar para anggota GPN turun tangan membantu petani-petani lain mengatasi serangan penyakit tanaman tersebut sesuai cara yang sudah diterapkan di internal GPN yaitu dengan mengembangkan pertanian selaras alam dan menghindari penggunaan bahan-bahan kimia.

Tabel: 57 Jenis Pestisida yang Dilarang untuk Tanaman Padi

pestisida-dilarang1

“Mari bergerak bahu-membahu membantu petani lain meskipun tindakan responsif bukanlahlah yang mudah. Karenanya saya minta seluruh anggota GPN segera bergerak bersama pihak lain membantu mengendalikan ledakan WBC di wilayah lain,” seru Hermanu.

Terkait hal ini, dia meminta para anggota GPN untuk melakukan beberapa langkah berikut. Pertama, menemui pemuka agama dan tokoh adat untuk memohon memimpin doa bersama agar petani nusantara terhindar dar serangan WBC dan OPT lainnya.

Dia menilai langkah ini sangat penting. “Kita berada di tengah pusaran alam yang semakin tak menentu. Selain gangguan hama penyakit, alam menyapa dalam bentuk bencana seperti angin puting beliung, banjir dan tanah longsong. Dipercaya bencana alam dipengaruhi alam pikiran dan perasaan manusia,” ujarnya.

Hermanu meyakini, anggota GPN adalah manusia terpilih yang keberadaannya tidak saja untuk diri sendiri tetapi juga untuk memberi aura dan energi positif pada masyarakat. “Anggota GPN harus mampu menjadi tempat bersandar bagi masyarakat petani lainnya,” katanya.

Dengan berdoa, diharapkan, petani mampu membuang aura negatif yang bisa mempengaruhi alam untuk menghindari bencana. “Para anggota GPN harus mampu menata hati dan pikiran untuk sadar kita adalah bagian kecil dari alam semesta, bersyukur dan berani untuk ikhlas mengasishi sesama ciptaann-Nya serta mengajak berbuat kebaikan,” imbau Hermanu.

Dia juga mengimbau agar para petani, khususnya anggota GPN tidak mudah terseret dalam arus kebencian dan tidak memjadi bagian yang emmeprkeruh suasana kebencian dan konflik “Itu akan membuat kita mudah diadu domba. Ingat, devide et impera adalah awal dari kekalahan,” tegas Hermanu.

Langkah kedua, Hermanu meminta agar anggota GPN mengingatkan petani dan pihak lain bahwa WBC muncul karena penggunaan insektisida yang membabi buta. “Hindari penggunaan 57 jenis insektisida yang dilarang untuk tanaman padi dan insektisida golongan piretroid karena akan semakin memperparah keadaan,” ungkap Hermanu.

Ketiga, memperbanyak agen hayati seperti Lecanicilium sp., Beauveria sp dan MOL (Mikro Organisme Lokal) untuk dibagikan kepada petani yang membutuhkan. “Langkah keempat adalah aktif memberi contoh pengendalian responsif dengan mengembangkan praktik pertanian ramah lingkungan,” pungkas Hermanu. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *