Setahun Blokade, Generasi Gaza Hadapi Masa Depan Suram

Seorang anak di Gaza mencoba menghangatkan tubuh di musim dingin diantara reruntuhan bangunan (dok. oxfam.org.uk)
Seorang anak di Gaza mencoba menghangatkan tubuh di musim dingin diantara reruntuhan bangunan (dok. oxfam.org.uk)

Jakarta, Villagerspost.com – Setahun berlalu semenjak rezim zionis Israel melakukan blokade atas wilayah Gaza di Palestina. Generasi muda Gaza kini menghadapi masa depan yang suram di bawah blokade Israel yang dilakukan sejak tahun 2014 lalu. Kebanyakan taraf kehidupan masyarakat tidak meningkat dan seluruh generasi muda menghadapi masa depan yang semakin suram dengan sedikit sekali harapan mendapatkan kerja, pembangunan atau keamanan.

Lembaga kemanusiaan internasional Oxfam mengatakan, saat ini sangat sedikit yang telah dilakukan untuk mencegah konflik lainnya atau memastikan adanya pembangunan untuk membalikkan keadaan ekonomi Gaza yang kolaps. Angka pengangguran di sana meningkat pesat menjadi salah satu yang tertinggi di dunia dengan sejumlah 67,9 persen penduduk berusia di bawah 24 tahun saat ini tak memiliki pekerjaan.

Bahkan diantara para lulusan perguruan tinggi, angka pengangguran mencapai 40 persen. Bahkan laporan Bank Dunia pada bulan Mei 2015, angka pengangguran di Gaza saat ini adalah yang tertinggi di dunia.

Langkanya lowongan kerja memaksa kaum muda yang pesat pertumbuhannya mengambil risiko untuk hidup mereka atau ditahan akibat berupaya memanjat kawat perbatasan Israel untuk mencari kerja. Trauma akibat konflik dan stres akibat hidup di bawah blokade, tak bisa meninggalkan Gaza membuat sekitar 300.000 anak muda di Gaza membutuhkan bantuan psikososial.

Konflik Gaza juga telah mengakibatkan hantaman lebih jauh terhadap perekonomian Gaza yang telah remuk redam dihantam konflik dan blokade selama delapan tahun yang membatasi arus perpindahan penduduk dan barang dan juga arus barang material untuk konstruksi tak bisa memasuki kawasan Gaza. Ekonomi Gaza saat ini sangat tergantung pada bantuan internasional dimana sekitar 80 penduduk Gaza menggantungkan hidupnya.

“Jika ada harapan untuk menyelesaikan konflik, anak-anak muda membutuhkan masa depan yang bisa mereka lihat, diantaranya adalah mereka bisa belajar, mengejar mimpi mereka, dapat membangun keluarga mereka sendiri dengan harapan untuk anak-anak mereka sendiri. Gaza memerlukan pembangunan kembali sesegera mungkin, tetapi penduduknya juga peru untuk dapat bergerak dan berdagang, untuk mendapatkan pekerjaan dalam sistem ekonomi yang berfungsi. Perjanjian perdamaian jangka panjang membutuhkan pembangunan ekonomi dan memenuhi kebutuhan dasar penduduk yang hanya bisa dilakukan dengan cara mengakhiri blokade,” kata Manajer Regional Oxfam Catherine Essoyan dalam surat elektronik yang diterima Villagerspost.com, Selasa (7/7).

Langkah pembangunan yang lamban berarti kebanyakan anak muda saat ini di Gaza akan telah menjadi orang tua saat pembangunan selesai, dengan perkiraan akan membutuhkan waktu lebih dari 70 tahun untuk membangun perumahan yang dibutuhkan Gaza. Ketika beberapa perbaikan atas bangunan yang rusak dilakukan, tidak satupun dari rumah-rumah yang hancur total akibat pemboman Israel tahun lalu yang telah dibangun kembali.

Sejumlah 20 unit bangunan sekolah dan taman kanak-kanak yang hancur masih dalam bentuk puing-puing seperti juga rumah sakit, klinik dan infrastruktur penting lainnya. Faksi-faksi politik di Palestina harus bekerjasama untuk memastikan pembangunan kembali bisa dilakukan.

Pemerintah zionis Israel memaksa terjadinya pemisahan wilayah Palestina antara Gaza dan Tepi Barat yang menyebabkan dampak yang luar biasa terhadap ekonomi Palestina dan ketenagakerjaan. Bank Dunia memperkirakan pendapatan perkapita Gaza saat ini mencapai US$3,9 juta. Jumlah orang yang bekerja di industri konstruksi yang berkembang di Gaza anjlok sekitar 50 persen sejak blokade dimulai meskipun ada kebutuhan mendesak untuk membangun kembali Gaza pasca konflik.

Penjualan hasil pertanian turun sebesar 31 persen di tahun lalu saja. Bahkan untuk mereka yang bekerja, angka penggajian turun 15 persen sejak blokade dimulai tahun 2007 lalu dari 69,1 NIS per hari menjadi 61,4 NIS per hari. Di sektor pertanian dan perikanan penggajian menurun sebesar 26 persen. Ditutupnya perbatasan dengan Mesir juga semakin membatasi perpindahan penduduk.

Meskipun ada perjanjian gencatan senjata sementara, kekerasan terhadap warga sipil terus berlanjut. Pejuang Palestina periode itu telah menembakkan enam roket ke wilayah Israel termasuk 170 roket tes yang diarahkan ke laut. Sebaliknya Israel menembakkan pelurunya sebanyak 700 kali ke wilayah Gaza.

Akses Area Terbatas di Gaza dan sepanjang pantai yang dijaga tentara Israel telah memotong jalur petani Palestina atas lebih dari sepertiga lahan subur di Gaza dan menghalangi nelayan untuk mencari penghidupan. Sejak gencatan senjata tahun lalu, terjadi lebih dari 300 insiden penembakan oleh angkatan laut terhadap para nelayan atau lebih dari sekali setiap harinya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *