SI BMB, Aplikasi Pemantau Komoditas Bawang Merah

Petani mengangkut bawang merah hasil panen (dok. pertanian.go.id)
Petani mengangkut bawang merah hasil panen (dok. pertanian.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong meminta petani dan pedagang untuk memanfaatkan Sistem Informasi Bawang Merah Brebes (SI BMB). Sistem ini, menyajikan berbagai informasi seperti harga, stok, dan distribusi bawang merah yang ada di Brebes.

“Sistem aplikasi online yang dikembangkan oleh Kementerian Perdagangan ini dapat membantu ekonomi rakyat di era ekonomi digital. Saya berharap para petani dan pedagang dapat memanfaatkan aplikasi online ini,” kata Thomas Lembong, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (12/4).

(Baca juga: Kunjungi Petani Brebes, Jokowi “Dihadiahi” Bawang Berulat)

Pria yang akrab disapa Tom itu mengatakan, sistem ini memang secara spesifik ditujukan untuk memantau komoditas bawang merah. Brebes menjadi salah satu sentra produksi bawang merah nasional, menjadi wilayah yang khusus dipantau melalui sistem ini.

“Sistem ini juga memantau pelaporan rencana tanam dan realisasi panen bawang merah di 11 Kecamatan di Brebes, serta pasokan harian bawang merah asal Brebes di 10 pasar utama di tingkat nasional,” ungkap Mendag.

Data terkait komoditas bawang merah dalam sistem ini, diterima dan diolah dari sejumlah pihak, seperti Dinas Perdagangan dan Dinas Pertanian Brebes, Asosiasi Bawang Merah Indonesia, serta Pengelola Pasar. Sistem pemantauan dilakukan secara harian melalui 2 jenis metode.

Pertama, melalui aplikasi mobile atau sms request dengan mengirimkan SMS ke nomor 0821-1288-7476. Kedua, melalui aplikasi berbasis web, yang dapat diakses melalui http://ews.kemendag.go.id/bawangmerah/Index.aspx.

SI BMB juga bersinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi yang juga memperkenalkan beberapa aplikasiĀ  dalam bentuk perdagangan online seperti limakilo.id dan 8villages.com.

Selain bawang merah, Kemendag selama ini juga mengembangkan Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP). Sistem ini merupakan sistem pemantauan yang telah dikembangkan secara lengkap oleh Kemendag, untuk memantau 14 komoditas bahan pokok.

“Melalui SP2KP, masyarakat dapat memantau harga dan berbagai informasi tentang kebutuhan pokok, seperti beras, gula, daging, dan telur pada tingkat nasional,” kata Tom Lembong.

Pemantauan harga dilakukan secara harian menggunakan data real time di 165 pasar rakyat di 34 provinsi dan 48 kabupaten/kota melalui koordinasi dengan Dinas Perdagangan, Pengelola Pasar, dan instansi terkait. Selain informasi harga bahan pokok, SP2KP juga menyajikan data profil komoditas, neraca komoditas, pola distribusi, iklim dan cuaca, pemangku kepentingan, kondisi sosial ekonomi, infrastruktur, faktor pembentuk harga, serta kebijakan terkait.

SP2KP juga menyajikan indikator-indikator untuk mengukur kestabilan harga, dan disparitas harga bahan pokok yang wajar antar wilayah. Kemudian, sistem ini juga bisa mendeteksi secara dini dan memberikan notifikasi kepada pengambil kebijakan terkait dengan potensi kejadian gejolak harga serta disparitas harga bahan pokok. Sistem ini juga menyediakan perangkat analisis untuk mendukung pengambilan keputusan dalam menentukan langkah penanggulangan gejolak harga, kelangkaan, dan peningkatan disparitas harga bahan pokok.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Srie Agustina mengatakan, sistem ini sangat bermanfaat bagi para petani dan pedagang. “Para petani dan pedagang juga dapat mengakses informasi harga di 10 pasar indukĀ  utama yang menjual bawang merah. Dengan demikian, dapat diketahui dengan pasti harga yang pantas dijual ke pasar,”
kata Srie.

Kesepuluh pasar induk tersebut yaitu Pasar Caringin Bandung, Pasar Induk Cibitung Bekasi, dan Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang Selatan. Kemudian ada juga Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur, Pasar Johar Semarang, Pasar Lima Banjarmasin, Pasar Jakabaring Palembang. Selanjutnya, Pasar Pembangunan Pangkal Pinang, Pasar Metro Bandar Lampung, serta Pasar Besar Palangkaraya.

Menurut Srie, sampai saat ini SI BMB telah diakses rata-rata sebanyak 50 orang per hari atau sebanyak 700 orang petani dan pedagang perantara. Kemendag akan terus memperluas penggunaan dan penerapan sistem ini ke depannya.

“Selain di Brebes, saat ini Kemendag tengah mengembangkan sistem ini untuk Kabupaten Probolinggo,” jelas Srie. (*)

Ikuti informasi terkait komoditas bawang merah >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *