Siaga Covid-19, Jayapura Batasi Aktivitas Warga

Suasana kota Jayapura (dok. wikimedia)

Jayapura, Villagerspost.com – Siaga pandemi Covid-19 dilakukan di berbagai daerah termasuk di Papua, yang melakukan karantina wilayah atau lockdown untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran virus Corona jenis baru SARS-CoV-2 tersebut. Dosen Jurusan Mikrobiologi Universitas Cendrawasih, Jayapura Dr. Daniel Lantang, M. Kes., mengatakan, khusus di Kota dan Kabupaten Jayapura, untuk memutus rantai persebaran virus ini, pemerintah kota dan kabupaten juga telah melakukan pembatasan aktivitas penduduk.

“Kota dan kabupaten Jayapura aktivitas atau mobilitas warga dibatasi sampai jam 21.00 malam dan dimulai kembali pagi jam 4.30. Untuk mengawasi warga agar patuh, siang malam pihak kepolisian melakukan patroli,” ujarnya kepada Villagerspost.com, Selasa (31/3).

Seperti dikutip dari laman papua.go.id diketahui, Pemprov Papua telah mengambil langkah untuk menutup akses dari dan ke kawasan wilayah adat Mee Pago dan La Pago. Wilayah adat Mee Pago meliputi Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Nabire, Intan Jaya, Paniai dan Mimika.

Sementara wilayah adat La Pago terdiri dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah pegunungan tengah sisi timur, yakni Kabupaten Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Lanny Jaya, Tolikara, Nduga, Puncak Jaya, Yalimo, Yahukimo, Membramo Tengah dan Kabupaten Puncak. Hingga saat ini seluruh kabupaten di dua wilayah adat itu belum ada laporan maupun temuan kasus Covid-19.

Daniel mengatakan, apa yang dilakukan di Papua, sudah sesuai dengan arahan dari Satgas Covid-19 Papua. “Khusus di Papua, toko tutup jam 14.00 siang, semua akses penerbangan dan laut skala nasional dan lokal ditutup kecuali kargo yang membawa logistik,” jelasnya.

“Pemprov Papua juga memberlakukan penutupan sarana transportasi dan membatasi akses keluar malam. Setiap hari pemerintah daerah lewat aparat kepolisian dan Satpol PP mobile, mengingatkan masyarakat agar keluar rumah hanya saat penting sehingga jalan-jalan di Jayapura tampak sepi,” tambah Daniel, yang juga merupakan Ketua Harian Komda Papua Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran .

Sementara itu, perkuliahan di Universitas Cenderawasih juga dilakukan secara online dan aktivitas di kampus ditiadakan. “Untuk sekolah ikut kebijakan Kemendikbud,” tegasnya.

Daniel menilai, kebijakan yang diambil pemerintah kota dan kabupaten Jayapura sudah tepat. “Menurut saya sudah tepat karena Covid-19 sangat mudah menular sehingga mobilitas masyarakat dikurangi otomatis mengurangi kerumunan masyarakat. Hanya kira-kira kapan pandemi Covid-19 ini berakhir? Karena pasti berdampak semua ke semua aspek seperti sosial, ekonomi dan kesehatan,” pungkasnya.

Dikutip dari situs papua.go.id, diketahui, hingga Senin (30/3) terjadi peningkatan signifikan jumlah orang dalam pengawasan (ODP) yang mencapai total 5.596 orang. Sementara untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP), tetap pada angka 43 orang.

“Ada penambahan tiga orang yang masuk status PDP, tapi pada kesempatan yang sama ada tiga pasien yang pulang. Sehingga jumlah tetap 43 orang,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua dr. Silwanus Sumule. Tiga PDP baru, ditempatkan di rumah sakit rujukan Biak Numfor satu orang dan dua lainnya di RS Provita Jayapura.

Mengingat masih tingginya jumlah ODP di Papua, Silwanus meminta masyarakat Papua agar memahami satu hal bahwa virus itu masih berpotensi menyebar jika tak patuh kepada anjuran pemerintah. Silwanus menegaskan, garis depan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ada di tangan masyarakat.

Sedangkan petugas kesehatan merupakan pertahanan terakhir yang mesti sama-sama dijaga agar tak sampai jebol. “Makanya kita minta tetap tinggal dirumah. Hanya melakukan aktivitas yang perlu dilakukan lalu tidak melakukan kontak dengan orang di luar rumah. Saya pikir kalau kita jalankan instruksi pemerintah ini, kita optimis bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *