Sitti Rahmah, Perempuan Pejuang Pangan Raih Penghargaan Negara

Sitti Rahmah perempuan pejuang pangan dari Pangkep, Sulawesi Selatan (Dok. Oxfam)
Sitti Rahmah perempuan pejuang pangan dari desa Pitusungu, Pangkep, Sulawesi Selatan (Dok. Oxfam)

Jakarta, Villagerspost.com – Perjuangan panjang Sitti Rahmah, perempuan asal Pangkep, Sulawesi Selatan dalam memberdayakan kaum perempuan lokal dan menghidupkan lahan tidur di pesisir menjadi lahan penghasil pangan, tak sia-sia. Perjuangan Sitti akhirnya berbuah penghargaan dari negara yaitu Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara yang diserahkan oleh Presiden Joko Widodo, hari ini, Jumat (16/1).

Sitti mendapat penghargaan untuk kategori Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan tahun 2014. Penghargaan ini diterima bersama kelompoknya yang bernama Pita Aksi, dari desa Pitusunggu, Pangkep, Sulsel. Sitti sebelumnya sudah menerima penghargaan tersebut dari tersebut dari menteri Pertanian pada tangal 26 Desember 2014 di Subang.

Selanjutnya Ibu Sitti Rahmah kembali mendapatkan undangan dari Presiden RI untuk mengikuti temu (ramah tamah) di Istana Merdeka hari ini. “Acara ini memang kelanjutan dari penghargaan kemarin, jadi semacam bincang-bincang presiden dengan para penerima penghargaan,” kata Sitti dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com.

Perjuangan Sitti bersama para perempuan di Pita Aksi memang layak diganjar penghargaan bergengsi. Sebab, pekerjaan yang dilakukan para perempuan itu untuk mengubah lahan tidur di kawasan pesisir menjadi lahan produktif penghasil tanaman pangan, bukanlah hal mudah. Desa Pitusunggu beberapa tahun yang lalu adalah desa yang yang gersang dengan banyaknya lahan tidur yang terabaikan selama puluhan tahun. Saking gersangnya, saat musim kemarau kerap kali terjadi kebakaran di lahan tidur ini.

Semua itu berubah sejak Sitti dan beberapa perempuan di desa itu mengikuti pendidikan di sekolah lapangan yang dihelat Oxfam yang bermitra dengan MAP (Mangrove Action Project) sekitar tiga tahun lalu. Lewat sekolah itu Oxfam dan MAP mengenalkan aktivitas pertanian khususnya di kawasan pesisir.

Sitti Rahmah dan warga lainnya di tahun 2010-2011 mengikuti Sekolah Lapang pertama yang fokus menanam padi air asin. Sekolah Lapang melatih warga untuk bertani dengan learning by doing, warga melakukan praktik langsung di lahan masing-masing dengan pendampingan di SL 1. Pertengahan 2011, Sitti bersama suaminya mengikuti SL 2 yang fokus pada pemanfaatan pekarangan. Masih haus dengan ilmu, Sitti dan suami mengikuti SL 3 di tahun 2011-2012 mengenai sawah organik.

Sejak tahun 2010-2012, di Kabupaten Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan) terdapat 17 Sekolah Lapang, dengan peserta masuk kategori rentan dan komposisi peserta 75% perempuan. Sekolah Lapang berlangsung didahului dengan materi SLA (Sustainable Livelihood Assesment) sebagai pengantar. SLA ini dilakukan selama 3 pertemuan (seminggu sekali), dengan konten 7 materi.

Inti dari materi SLA ini adalah mengajak peserta yang terbagi dalam kelompok kecil untuk melakukan pemetaan berbagai potensi desa, membuat peta letak potensi-potensi tersebut, serta melakukan pengamatan lapangan dan mengidentifikasi komponen-komponen yang ada di sekitar potensi-potensi tersebut. Dari pengamatan yang sudah dilakukan, masing-masing kelompok diwajibkan untuk melakukan presentasi hasil temuannya di lapangan.

Kemudian peserta diajak untuk membuat ‘jembatan bambu’ yang mengantarkan pemikiran peserta untuk menentukan kesimpulan dan tindak lanjut topik Sekolah Lapang yang akan diangkat atau dijadikan topik SL yang akan dipelajari bersama. Maka muncullah topik SL seperti SL tambak organik, sawah organik, maupun sayuran organik.

Setelah disepakati topik SL yang akan dipelajari, kemudian SL dilaksanakan selama 12 pertemuan (selama 3 bulan). Dalam pelaksanaannya muatan SL ini lebih banyak praktek di lapangan (komposisi 70% praktek dan 30% materi yang diberikan di awal setiap pertemuan.

Selain peserta melakukan bagaimana cara teknis bertambak, bersawah, maupun berkebun sayuran, mereka juga diarahkan untuk melakukan pengamatan tentang perkembangan komoditas yang dibudidayakan, mengamati kondisi pertumbuhan, gangguan hama, dan kondisi cuaca. Peserta juga diajarkan untuk mengamati faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi kondisi sawah, tambak, ataupun kebun sayuran.

Setelah semua proses berlangsung, peserta Sekolah Lapang yang terbagi dalam kelompok, diminta untuk mempresentasikan semua hasil kerjanya yang kemudian akan merumuskan kesimpulan dan tindak lanjut yang akan dilakukan terhadap permasalahan yang ditemui di lapangan. Di akhir pertemuan Sekolah Lapang (SL) peserta diajak untuk merumuskan rencana tindak lanjut kegiatan sesuai dengan topik masing-masing SL dan analisa usaha dari kegiatan yang kemudian akan dilakukan.

Khatam dari Sekolah Lapang selama 3 periode, menjadi bekal bagi Sitti Rahmah dan warga Desa Pitusunggu melakukan pertanian organik. Skill yang didapat dari Sekolah Lapang ini mendorong terbentuknya kelompok Budidaya dan Penjualan Hasil Pertanian Organik “Pita Aksi” yang merangkul 25 orang perempuan.

Kelompok Pita aksi dibandingkan dengan kelompok lainnya di Pangkep, lumayan produktif dalam kegiatan budidaya dan penjualan hasil pertanian organik. Walaupun sudah tidak lagi menggunakan lahan bersama, namun pemanfaatan pekarangan rumah masing-masing anggota cukup optimal. Jenis tanaman yang variatif jelas menambah omset yang didapat anggota Pita Aksi.

Sitti Rahmah sebagai Ketua Kelompok Pita Aksi, menyiasati komunikasi antar anggota melalui acara arisan setiap bulannya. Dengan adanya arisan, tentu setiap anggota lebih tergerak untuk hadir. “Padahal tujuan utamanya adalah menjaga semangat anggota agar konsisten menghidupkan pekarangan rumahnya berproduksi tanaman organik,” ujar Sitti.

Sesekali Sitti Rahmah berkunjung ke rumah anggota Pita Aksi, melihat perkembangan pekarangan organik anggotanya. Tidak lupa ia selalu mengingatkan setiap anggota untuk melapor hasil penjualan sayur organik, untuk melihat sejauh mana perkembangan bisnis sayur organik kelompok Pita Aksi.

Sitti Rahmah mengeluarkan buku catatan pembelian bersampul warna hijau. Di buku tersebut ia mencatat penjualan hasil tani organik pekarangannya. Pembeli hasil tani organiknya biasanya datang sendiri ke rumahnya, memetik sendiri di pekarangan rumahnya. “Pembeli tetapnya adalah tetangga di sekitaran rumah sampai warga dari desa lain,” ujar Sitti.

Sesekali ketika Pak Gandeng penjual sayur keliling lewat, Sitti Rahmah menjualnya ke Pak Gandeng. Terkadang ketika suaminya tidak sibuk di tambak, suaminya yang menjual hasil tani organiknya ke pasar kecamatan.

Dari hobi berkebun di pekarangan rumah, Sitti Rahmah sudah bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Kurang lebih selama 3 tahun Sitti Rahmah mengurus kebun organiknya dan selama itu pula ia menabung. Bulan kemarin, saat anak sulungnya harus mengikuti ujian kompre Kebidanan dan harus membayar sejumlah uang, Sitti Rahmah mengambil tabungannya.

“Alhamdulillah lumayan, hasil dari pekarangan rumah sudah bisa membiayai pengeluaran kuliah anak saya, kemarin tabungan saya mencapai 11 juta rupiah,” ujarnya sumringah.

Dari kiprahnya memberdayakan pekarangan rumah untuk pertanian organik, Sitti Rahmah sudah berkali-kali mendapat beberapa penghargaan. Ia masuk dalam kategori 7 Perempuan Pejuang Pangan Indonesia, Anugerah Adhikarya Pangan Nusantara tingkat Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2014 sebagai pelaku pembangunan ketahanan pangan, dan meraih penghargaan dari OXFAM sebagai Perempuan pejuang pangan yang telah mengembangkan dan mempromosikan pangan lokal.

Selain itu, Sitti juga meraih penghargaan Female Food Hero dan Penghargaan Keluarga Asuh dari Inggris. Sitti Rahmah juga mendapat penghargaan sebagai petani berprestasi di acara Mapalili Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Terakhir Sitti Rahmah mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo sebagai pelaku pembangunan ketahanan pangan.

Sitti Rahmah memang bukan orang yang pelit ilmu, ia sering berbagi informasi mengenai kegiatan tani organik dengan kelompok-kelompok dari Desa/Kabupaten lain.¬† Prestasi¬† yang diraih Sitti Rahmah tentu tak lepas dari peran suaminya, Mohammad Arif. “Dulu bapak tidak mau istrinya bertani,” ujar Sitti Rahmah. “Oleh sebab itu bapak menikah dengan saya yang berasal dari daerah non pertanian,” tambahnya lagi.

Namun tidak ada yang tahu, ternyata setelah menikah Sitti Rahmah malah aktif memanfaatkan pertanian sayur dan padi organik. Suami istri ini kompak mengikuti Sekolah Lapang, kemudian memanfaatkan lahan tidur seluas 1 hektare miliknya untuk menanam padi organik selain kegiatan tani organik di pekarangan rumahnya.

Sekali panen hasil sawahnya bisa mencapai sekitar 4 ton gabah. Hasil panen lebih banyak dikonsumsi untuk ketahanan pangan keluarga, sebagian kecil dijual ke pasar, pernah juga ke minimarket, atau dijual saat pameran.

“Kalau dijual di daerah sini, harganya tidak terlalu jauh dengan beras non-organik, jadi kurang menguntungkan. Pernah dijual ke minimarket, harganya Rp14.000/kg. Baru kalau di pameran, bisa dijual sampai Rp20.000/kg,” Sitti Rahmah menjelaskan.

Penyebab harga beras organik dan non-organik yang tidak terlalu jauh ini bisa jadi dikarenakan masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kualitas padi organik. Kualitas padi organik tentu lebih sehat, karena saat proses penanamannya tidak menggunakan pestisida, kondisi tanah yang lebih sehat, dan irigasi yang tidak terkontaminasi racun.

Kolaborasi antara suami istri memang diperlukan. Menurut Sitti Rahmah, dulu suaminya belum turun langsung membantu, baru setelah memasuki tahun kedua suaminya mulai aktif membantu. Suaminya seringkali mengurus pekerjaan berat seperti mengolah tanah pekarangan rumahnya,dan membantu menjual hasil taninya ke pasar.

Dengan adanya kolaborasi suami isteri, tentu beban yang dirasa pun menjadi lebih ringan. Ketahanan pangan keluarga tercapai, dan ekonomi keluarga pun bertahap meningkat.

Untuk meluaskan wilayah kegiatannya, Sitti Rahmah dan Kelompok Pita Aksi juga sudah menjalin MoU (Memorendum of Understanding) dengan beberapa Sekolah Dasar di daerah Desa Pitusunggu. Kerjasama yang sudah terjalin hampir tiga tahun ini dilakukan untuk mensosialisasikan kegiatan pertanian organik terhadap generasi muda di daerahnya.

Melalui kerjasama ini, anak-anak SD menjadi tahu bagaimana cara bertani organik, cara membuat MOL (Mikro Organisme Lokal), suatu cairan berbahan dasar alami berfungsi sebagai media hidup mikro organisme yang berguna mempercepat penghancuran bahan-bahan organik. Berfungsi merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Bukan hanya tahu tentang cara bertani organik, anak-anak SD pun menjadi tahu apa pentingnya mengkonsumsi makanan organik. Kerjasama ini akhirnya mendorong berkembangnya gaya hidup sehat mengkonsumsi sayuran organik.

Perlahan, paradigma masyarakat yang melihat lahan kosong yang tak menghasilkan ini berubah. Banyak lahan tidur yang tadinya diabaikan, kini dimanfaatan menjadi lahan pertanian. Masyarakat yang dulunya harus membeli beras, kini sudah punya cadangan beras dari sawahnya. Kebutuhan akan sayuran pun bisa terpenuhi tanpa harus membeli, karena sudah bisa didapat dari pekarangan sendiri.

“Saya berharap semoga pertanian di Pangkep bisa makin berkembang. Dengan menerapkan pertanian organik, selain sehat juga menghasilkan,” ujar Sitti. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *