Solar Langka, Polsek Rawajitu Digeruduk Emak-Emak Petambak | Villagerspost.com

Solar Langka, Polsek Rawajitu Digeruduk Emak-Emak Petambak

Emak-emak petambak Bumi Dipasena menggeruduk kantor Polsek Rawajitu, Lampung menuntut penyelesaian masalah kelangkaan solar (villagerspost.com/ari suharso)

Rawajitu, Villagerspost.com – Sabar ada batasnya. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan nasib ribuan keluarga petambak Dipasena yang kini tengah mengalami kondisi sulit dalam usaha budidaya udang. Belum cukup susah dengan tingginya harga pakan, murahnya harga jual udang dan serangan penyakit WSSV atau white feses desease, kondisi sulit ini masih harus diperparah dengan langkanya Bahan Bakar minyak jenis solar yang dibutuhkan untuk penerangan dan proses produksi budidaya udang.

Kelangkaan solar yang terjadi di areal pertambakan udang Bumi Dipasena, Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung ini disinyalir terjadi karena terhentinya suplai solar eceran yang masuk ke kecamatan tersebut. Pasokan terhenti kabarnya akibat adanya razia yang kerap dilakukan pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Rawajitu Selatan dan Kepolisian Resor (Polres) Tulang Bawang.

Aksi massa emak-emak petambak Dipasena ke PolsekRawajitu dipicu kabar kelangkaan solar terjadi akibat dirazianya para pengecer oleh aparat kepolisian setempat (villlagerspost.com/ari suharso)

Gerah dengan kondisi tersebut, Senin (10/12) siang, ratusan keluarga petambak yang di dominasi oleh emak-emak alias kaum ibu petambak yang tergabung dalam Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) beramai-ramai mendatangi kantor Polsek Rawajitu. Mereka datang untuk mengklarifikasi serta meminta solusi terkait permasalah kelangkaan bahan bakar yang terjadi karena adanya razia yang dilakukan oleh pihak kepolisian setempat.

Ezra Dewi, salah satu peserta aksi menyampaikan, bahan bakar solar adalah kebutuhan yang amat vital bagi masyarakat di Bumi Dipasena. “Terhentinya pasokan solar karena dirazianya para pemasok berpengaruh sangat besar terhadap ketersediaan solar bagi masyarakat,” kata Ezra Dewi.

Emak-emak petambak Dipasena menuntut adanya penyelesaian masalah kelangkaan solar ini, karena merupakan barang kebutuhan utama bagi pasokan energi ke kawasan Bumi Dipasena (villagerspost.com/ari suharso)

“PLN nggak ada, listrik kami harus pakai diesel, SPBU nggak ada, solar kami beli eceran dari pemasok, kalau sekarang di razia solusinya apa?” tambah Ezra.

Ezra memaparkan, harga solar di areal pertambakan Bumi Dipasena saat ini telah mencapai harga 6500-8000 rupiah /liter. “Harga tersebut berfluktuasi walau tidak ada informasi kenaikan harga BBM secara formal,” keluhnya.

Laporan/Foto: Ari Suharso, Petambak di Bumi Dipasena, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *