Solidaritas Perempuan Mendesak Kekerasan dan Perampasan Terhadap Sumber Kehidupan Perempuan Wadas Dihentikan

Perempuan Desa Wadas menentang pertambangan batu yang akan merusak kawasan sumber penghidupan mereka (dok. wadas melawan)

Jakarta, Villagerspost.com – Solidaritas Perempuan mengecam kekerasan dan perampasan sumber kehidupan perempuan di Wadas. “Perjuangan Warga Wadas mempertahankan sumber hidup dan kehidupannya direspons dengan kekerasan oleh negara,” demikian pernyataan pers Solidaritas Perempuan yang diterima Villagerspost.com, Rabu (9/2).

Solidaritas Perempuan menilai, pengerahan ratusan personel polisi dan kriminalisasi yang dialami warga, pada Selasa, 8 Februari 2022 menjadi teror yang dilakukan negara terhadap warganya Purworejo. “Kehadiran mereka menimbulkan goncangan dan trauma bagi warga, terlebih dengan penangkapan setidaknya 60 orang warga dan pendamping, termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak yang sampai saat ini masih ditahan,” tegas Solidaritas Perempuan.

Polisi juga menurunkan banner protes penolakan tambang batu andesit yang menjadi ekspresi perlawanan warga. Mereka juga sempat mengambil paksa alat pertanian dan pisau-pisau yang biasa digunakan untuk menganyam besek.

Pernyataan Ganjar Pranowo yang mengatakan bahwa polisi yang datang tak lepas dari menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat bertentangan dengan fakta terjadinya pengepungan, penangkapan warga dan pendamping, intimidasi serta kekerasan yang dilakukan aparat di Desa Wadas.

Penolakan Masyarakat Wadas, terutama perempuan atas penambangan Bendungan Bener dimulai sejak tahun 2015. Bagi mereka, tanah adalah ibu, darah daging mereka, sumber kebahagiaan, sumber keselamatan dan sumber kebijaksanaan hidup. Maka, proyek penambangan batuan andesit dan Bendungan Bener akan menjadi petaka.

Menganyam besek menjadi simbol perlawanan perempuan yang bertekad mempertahankan vegetasi bambu yang terancam proyek penambangan.

Menganyam juga mencerminkan tradisi yang dijaga oleh perempuan Wadas dalam merajut kebersamaan dan perjuangan merawat alam, termasuk menjaga ketersediaan air.

“Kehadiran aparat hari ini di bumi Wadas menunjukkan bahwa negara tidak hadir untuk pemenuhan hak dan kesejahteraan warganya, melainkan untuk merampas kehidupan warga,” tegas pernyataan tersebut.

Untuk itu Solidaritas Perempuan mendesak agar intimidasi dan kekerasan di desa Wadas dan kembalikan barang milik warga yang dirampas paksa oleh pihak kepolisian dihentikan. Solidaritas Perempuan juga mendesak agar aparat kepolisian ditarik mundur dari Desa Wadas.

“Bebaskan warga dan pendamping yang ditangkap paksa oleh Polsek Bener. Hentikan pengukuran tanah yang dilakukan oleh Tim Pengukur dari Kantor Pertanahan Purworejo dan rencana pertambangan di Desa Wadas, Bener, Purworejo. Dan pulihkan trauma warga, terutama perempuan dan anak-anak,” tegas Solidaritas Perempuan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.