Songsong Era Industri Digital, Kemendesa PDTT Luncurkan Akademi Desa 4.0

Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo meninjau BUMDes Tirta Mandiri, Desa Ponggok (dok. kemendesa pdtt)

Jakarta, Villagerspost.com – Untuk menyongsong lahirnya era industri digital, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) meluncurkan Akademi Desa 4.0. Peluncuran dilakukan di Jakarta pada Kamis (24/5) oleh Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo. Dalam sambutannya pada peluncuran program tersebut, Eko mengatakan, Akademi Desa 4.0 merupakan upaya dalam mendukung Indonesia 4.0 sekaligus sebagai respons positif terhadap era Industri 4.0.

Di era industri keempat ini, kata Eko, kreativitas, inovasi, dan enterpreneurship para pelaku di desa menjadi prasyarat pencapaiannya. Karena itu, lewat Akademi Desa 4.0. beragam pelatihan diselenggarakan untuk perangkat desa dan para pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Untuk memperkuat hal tersebut, dibutuhkan standardisasi pelatihan dalam bentuk sertifikasi lulusan untuk menjamin kompetensi dan kualitas alumni guna menyongsong Indonesia 4.0.

Lebih dari 100 perguruan tinggi akan bergabung melatih para pemangku kepentingan desa lewat kursus online yang dimotori oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Eko mengatakan, perguruan tinggi yang bergabung dalam Akademi Desa 4.0 tersebut akan terhimpun dalam forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides).

Akademi tersebut akan memberikan pelatihan dan modul dalam bentuk audio visual yang dapat diakses langsung secara online. Selain untuk menghemat biaya pelatihan, metode tersebut dinilai efektif karena bisa diakses berulang kali.

“Kita lihat BUMDes masih banyak yang membutuhkan pelatihan-pelatihan. Kita mau memberikan pelatihan dengan mengumpulkan peserta dalam satu tempat itu membutuhkan biaya besar. Desa kita itu ada lebih dari 74 ribu desa. Dan tidak efektif kalau pelatihan hanya dilakukan 1-2 hari. Kalau Akademi Desa 4.0 ini kan bisa diakses online berulang-ulang setiap hari,” ujarnya Eko.

Eko mengatakan, target utama dari Akademi Desa 4.0 adalah pemangku kepentingan desa terutama aparat dan masyarakat desa. Melalui program pelatihan online tersebut, pemangku kepentingan desa diharapkan memahami dan mendapat inspirasi dalam mengelola BUMDes serta program-program desa lainnya agar lebih baik dan cepat.

“Kita juga akan dibantu oleh 19 kementerian/ lembaga yang lokus programnya di desa untuk memberikan kursus. Akan ada Bimbel (Bimbingan Belajar) juga dari KPK dan kejaksaan terkait pengawasan (dana desa),” ungkapnya.

Lewat Akademi Desa 4.0, Kemendesa PDTT akan melakukan standardisasi pembelajaran pembangunan desa di Indonesia. Pengurus BUMDes, perangkat desa, pengelola kegiatan desa, pendamping, dan pengelola lembaga kemasyarakatan yang lulus pelatihan praktis akan teruji kompetensinya.

Mereka yang lulus berhak menerima sertifikat kompetensi pembangunan desa. Selain itu, Akademi Desa 4.0 juga menyediakan akreditasi kepada lembaga yang bekerja sama menjalankan sertifikasi kompetensi pembangunan desa.

Dengan capaian itu, Akademi Desa 4.0 ditargetkan dapat mempercepat peningkatan kualitas SDM di desa, kawasan perdesaan, daerah tertinggal, dan transmigrasi. Institusi ini juga memberi dasar bagi peningkatan kualitas pelayanan birokrasi pemerintahan desa kepada masyarakat serta mendorong percepatan perkembangan usaha ekonomi desa.

Lisensi sertifikasi diajukan secara resmi kepada Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dalam acara hari ini. Akreditasi institusi diajukan kepada Kementerian Ketenagakerjaan. Ruang lingkup lisensi Akademi Desa 4.0 meliputi penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang pembangunan desa dan kawasan perdesaan. Lisensi berikutnya ialah pemberdayaan masyarakat desa. Lisensi juga mencakup percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi.

Sertifikasi kompetensi penyelenggara pemerintahan desa dan kawasan perdesaan meliputi sub kompetensi keahlian kepala desa, sekretaris desa, perangkat desa, dan tenaga pendukung desa. Sedangkan sub keahlian pembangun desa dan kawasan perdesaan meliputi pengelola kegiatan desa, pengurus BUMDes dan BUMDes Bersama, pengelola Produk Unggulan Kawasa Perdesaan (Prukades), serta pengurus lembaga kemasyarakatan desa.

Sertifikasi kompetensi pemberdaya masyarakat desa meliputi pendamping masyarakat, desa dan kawasan, penggerak swadaya masyarakat, kader posyandu, dan pengurus PKK. Kompetensi pembangun daerah tertinggal meliputi pendamping daerah tertinggal dan tim pengelola kegiatan daerah tertinggal.

Kompetensi pembangun daerah transmigrasi meliputi pendamping daerah transmigrasi dan tim pengelola kegiatan daerah transmigrasi. Kompetensi pembangunan daerah tertentu mencakup pendamping daerah perbatasan, terpencil, rawan bencana, dan konflik, dan tim pengelola kegiatan daerah perbatasan, terpencil, rawan bencana, dan konflik.

Koordinator Tim Advisor Kementerian Desa PDTT Haryono Suyono mengatakan, Akademi Desa 4.0 adalah gagasan yang akan menjadi payung dalam rangka mendidik dan melatih petugas-petugas desa. Selain digelar secara online, Akademi Desa 4.0 juga akan memberikan pelatihan langsung dibantu oleh berbagai balai pelatihan, baik Balai Kemendes PDTT maupun balai pelatihan milik mitra Akademi Desa 4.0 lainnya.

“Kita telah menyampaikan undangan kepada perguruan tinggi untuk bergabung dan minat mereka sangat besar. Akan ada lebih dari 100 perguruan tinggi di seluruh Indonesia akan ikut serta melatih. Mereka akan memberikan kuliah yang intinya telah ditentukan oleh Kemendes PDTT,” ujarnya.

Di samping itu, lanjutnya, perguruan tinggi yang bergabung dalam Akademi Desa 4.0 tersebut juga akan mengirimkan mahasiswa ke desa melalui program kuliah kerja nyata (KKN). Melalui KKN tesebut, mahasiswa akan membantu desa mempelajari bahan-bahan kursus dari Kemendes PDTT.

“Ada perguruan tinggi yang mengirimkan paling tidak 5.000 mahasiswa ke desa. Mereka akan membantu desa mempelajari bahan kursus dalam bentuk digital atau video secara berulang-ulang. Di samping itu, para mahasiswa akan bergaul dengan masyarakat dalam kurun waktu 1-1,5 bulan untuk membangun budaya pembangunan di desa,” ujarnya.

Akademi Desa 4.0 dibentuk Kemendes PDTT melalui Pusat Pelatihan Masyarakat (Puslatmas), Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Informasi (Balilatfo). Ekosistem pembelajaran dibentuk melalui kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) di provinsi, kabupaten, hingga kecamatan.

Ekosistem pembelajaran juga dikembangkan dengan puluhan perguruan tinggi yang telah bekerja sama dalam Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides), seperti Institut Teknologi Bandung, Unversitas Gadjah Mada, UPN Veteran Surabaya, dan sebagainya. Ekosistem pembelajaran terus dikembangkan dengan berbagai lembaga yang telah siap melaksanakan pelatihan BUMDes, perangkat desa, inkubasi bisnis, dan sebagainya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *