Stakeholder Sawit Diminta Serius Lindungi Gambut | Villagerspost.com

Stakeholder Sawit Diminta Serius Lindungi Gambut

Lahan gambut terbakar (dok. wwf)

Lahan gambut terbakar (dok. wwf)

Jakarta, Villagerspost.com – Perhelatan Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan, atau International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE)kelima tahun ini, diharapkan menghasilkan langkah serius mewujudkan sawit berkelanjutan. Perhelatan ICOPE yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, sejak 16 Maret kemarin memang menyoroti praktik tebang dan bakar, restorasi lahan gambut, jejak gas rumah kaca dan remediasi.

Terkait tema ini, WWF Indonesia mengingatkan semua pemangku kepentingan atas bencana kabut asap yang terjadi tahun lalu di hampir seluruh Sumatera dan Kalimantan. “Meskipun dampaknya juga diperburuk oleh El Nino yang berkepanjangan, namun bencana ini ipersepsikan banyak pihak terkait dengan oknum industri kelapa sawit yang tidak bertanggung jawab,” kata CEO WWF Indonesia Dr. Efransjah dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (18/3).

(Baca Juga: Perusahaan Sawit Nasional Wajib Ikut ISPO)

Banyak laporan mengungkapkan bahwa kabut asap juga menyebabkan kekhawatiran atas masalah kesehatan dan mempengaruhi kehidupan juga mata pencaharian ribuan orang dari wilayah yang terkena dampak asap. WWF, kata Efransjah, memberi perhatian serius, bahwa langkah-langkah pencegahan atas kebakaran lahan dan hutan perlu ditempuh terus-menerus, khususnya yang terjadi di lahan gambut.

“Mengingat bahwa ketika lahan gambut terbakar, dibersihkan, dan dikeringkan, sejumlah besar karbon akan terlepas ke atmosfer,” ujarnya.

WWF Indonesia mengimbau semua pihak terkait untuk memberikan tindakan yang lebih serius tentang upaya melindungi lahan gambut, dengan meninjau kebijakan pembangunan di aspek-aspek utama yang terkait. Langkah-langkah pencegahan ini perlu diambil terus menerus untuk mengurangi potensi kebakaran lahan dan hutan pada tahun ini dan di masa yang akan datang.

“Industri kelapa sawit harus menyadari perlunya mengintegrasi sistem peringatan dini untuk mencegah terulangnya bencana kabut asap tahun lalu, serta meyakinkan bahwa keterlibatan penduduk setempat adalah sebuah keharusan yang bermanfaat,” tegas Efransjah.

Dalam menanggapi kebutuhan mitigasi perubahan iklim, WWF juga mengapresiasi tindakan-tindakan yang telah diambil Pemerintah Indonesia, salah satunya melalui pembentukan Badan Restorasi Gambut. Badan ini diharapkan untuk memimpin dan mendorong strategi intervensi inovatif dalam menghadapi tantangan pelik antara lahan gambut dan rantai industri kelapa sawit.

“Kita harus mengakhiri pengulangan atas kelalaian kolektif dan permainan saling menyalahkan ketika terjadinya kabut asap, kita berbagi risiko dan tanggung jawab yang sama, mulai dari tingkat pencegahan,” ujar Deputy Director Market Transformation WWF Indonesia Irwan Gunawan.

Ia juga menambahkan bahwa remediasi bukan hanya sekedar teori perubahan di atas kertas, akan tetapi harus dapat dilaksanakan di lapangan. WWF Indonesia, secara khusus berharap agar semua peserta ICOPE kelima tahun ini, dapat menjadikan konferensi dua tahunan ini sebagai kesempatan berharga bagi para pemain utama di bisnis sawit untuk bertukar pikiran di tengah-tengah masih belum membaiknya pasar sawit global.

“WWF Indonesia meyakini bahwa sustainability (keberlanjutan) akan tetap menjadi keunggulan komparatif bagi yang melaksanakannya sebagai belanja modal untuk ketahanan ekonomi dalam jangka panjang,” pungkas Irwan. (*)

Ikuti informasi terkait perkebunan sawit >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *