Studi Oxfam: Setengah Juta Orang Asia Hidup Dalam Kemiskinan Akibat Ketidakadilan Ekonomi | Villagerspost.com

Studi Oxfam: Setengah Juta Orang Asia Hidup Dalam Kemiskinan Akibat Ketidakadilan Ekonomi

Potret kesenjangan ekonomi (worldbank.org)

Potret kesenjangan ekonomi (worldbank.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Kisah sukses negara-negara Asia dalam memerangi kemiskinan menghadapi risiko seiring semakin meningkatnya ketimpangan ekonomi di kawasan tersebut. Studi Oxfam yang dirilis baru-baru ini mengungkapkan, ketimpangan yang meluas ini mengancam keamanan dan pertumbuhan ekonomi. Laporan itu dirilis sebelum pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss.

Lewat laporan tersebut Oxfam meyakinkan para pemimpin di Asia untuk melakukan aksi jika mereka ingin menolong 500 juta orang yang masih tinggal di bawah garis kemiskinan di kawasan itu. “Asia saat ini tengah berada di persimpangan jalan. Ini bisa saja berlanjut ke arah kebijakan yang sudah ada dan membahayakan politik, sosial dan kelestarian lingkungan atau bisa berubah arah dengan memperhatikan masalah ketidakadilan secara lebih serius dalam segala aspek untuk melanjutkan kemajuan ekonomi,” kata Deputi Regional Director, Campaign and Policy Oxfam Lilian Mercado dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (20/1).

Peringatan ini muncul sebagai catatan atas brifing terbaru Oxfam bertajuk Asia di Persimpangan Jalan. Laporan itu menggarisbawahi meskipun Asia meraih sukses luar biasa dengan menciptakan jutaan warga kelas menengah baru, namun diperkirakan masih ada sekitar 500 juta orang yang tinggal dalam kemiskinan. Hal ini terjadi seiring perbedaan kelas antara kaya dan miskin meningkat di kawasan itu.

“Fakta bahwa asia terus diliputi ratusan juta rakyat miskin sementara Cina dan India memiliki 1,3 juta miliuner diantara mereka menjadi alarm bagi pemerintah, administrator dan institusi terkait lainnya serta agensi untuk mengambil tindakan segera,” kata Mercado menambahkan.

Di Asia, kata Mercado, ketidakadilan atau ketimpangan ekonomi menyebar merata dalam dimensi yang beragam seperti isu kesehatan masyarakat, pendidikan dasar dan gender. “Lebih jauh struktur sosial mendiskriminasi atas dasar etnisitas dan kasta yang juga memperparah ketimpangan,” katanya menegaskan.

Sementara orang terkaya di kawasan Asia memiliki kekayaan “wah” mencapai US$31 miliar, hampir 500 juta orang kesulitan menggantungkan hidup hanya dengan penghasilan sebesar US$1,25 per hari. Satu orang miskin Asia harus menabung selama 68 juta tahun untuk bisa menyamai kekayaan orang terkaya Asia dengan asumsi dia menabungkan seluruh penghasilannya.

Hampir seluruh negara Asia berkembang semakin kaya sejak tahun 1990 dengan perkembangan paling cepat diraih Cina, Vietnam, Korea, India, Sri Lanka, Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Kamboja dan Bangladesh. Meski demikian antara tahun awal 1990-an dan akhir 2000-an, koefisian gini (standard pengukuran ketimpangan ekonomi) di kawasan itu secara keseluruhan juga meningkat pesat mencapai 18 persen. Empat dari lima orang Asia mengalami peningkatan tajam ketimpangan ekonomi.

Oxfam menilai, penyebab ketimpangan ini dari beberapa segi. Diantaranya adalah masalah kurangnya kesempatan untuk mengakses layanan kesehatan, pendidikan, peningkatan keterampilan kerja dan pekerjaan, tanah dan modal. Penafian secara sistematis melalui kebijakan seperti sistem pengupahan yang tak adil, sistem pajak yang tak berimbang, rendahnya pendanaan untuk perlindungan dan pelayanan sosial telah meningkatkan ketimpangan ekonomi.

Ini, kata Mercado, pada gilirannya telah menciptakan kesenjangan terhadap akses yang memadai atas sumber daya dan kesempatan untuk mengatasi masalah itu. Beberapa negara mengetahui risiko dari ketimpangan ekonomi ini dan mulai melakukan berbagai aksi.

Beberapa negara Asia seperti Cina dan Thailand secara cepat meningkatkan investasi publik untuk layanan kesehatan dan pendidikan. Skema universal Thailand memangkas jumlah uang yang dibelanjakan masyarakat termiskin untuk layanan kesehatan di tahun pertama sekaligus mengurangi angka kematian bayi dan ibu. Tetapi, kata Mercado, masih banyak hal yang harus dilakukan dan sangat penting.

Keuntungan potensia dari mendistribusi ulang kekayaan dari orang kaya, bahkan dalam jumlah terkecil, akan mengubah segalanya. Studi sebelumnya mengungkapkan sumbangan sebesar 1,5 persen dari kekayaan para miliuner dunia saat ini dapat mendanai setiap anak untuk bersekolah dan memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat di negara termiskin setiap tahunnya.

Untuk selama tiga tahu, survei yang dilakukan the World Economic Forum’s Global Risks mengungkapkan disparitas pendapatan yang sangat parah menjadi salah satu penyebab utama risiko global dalam decade mendatang. Ini sejalan dengan perkiraan Asian Development Bank (ADB) bahwa sejumlah 240 juta penduduk Asia (6,5% total populasi Asia) dapat dientaskan dari kemiskinan ekstrem secara merata selama lebih dari dua dekade.

“Satu-satunya jalan bagi pemerintah di Asia untuk menghentikan lingkaran kekejaman ini adalah dengan memberdayakan penduduk miskin dan masyaralay khususnya perempuan dan kaum marjinal,” kata Mercado.

“Sangat jelas kita membutuhkan akses yang setara atas pendidikan dan layanan kesehatan termasuk sistem penggajian yang adil. Karena itu pemerintah, LSM dan organisasi masyarakat sipil serta swasta harus bekerjasama dan bertindak saat ini juga untuk mengatasi ketimpangan ini dalam segala bentuknya,” tegas Mercado. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *