Suara Perempuan Nelayan pada Rembuk Iklim: “Ekonomi Sulit Perempuan Menjerit”

Perempuan nelayan beraksi memperjuangkan kesejahteraan dan pengakuan politik dari negara (dok. kiara)

Surabaya, Villagerspost.com – Sebanyak 350 perempuan nelayan berkumpul menyatukan gagasan dan aspirasi melalui Rumah Perempuan Nelayan Indonesia di seluruh Kabupaten di Jawa Timur. Bersama Tim Pemenangan Ganjar-Mahfud, para perempuan nelayan menyelenggarakan Rembuk Iklim Perempuan Nelayan Indonesia, Sabtu (30/12).

Ketua Umum Perempuan Nelayan, Rosinah menyampaikan, Rembuk Iklim Perempuan Nelayan, menjadi ruang bagi Perempuan nelayan untuk berkonsolidasi menyampaikan pengalaman dan pengetahuan perempuan menghadapi berbagai hambatan untuk melanjutkan hidup di tengah cuaca ekstrim yang melanda nelayan.

“Dalam konteks perubahan iklim perempuan adalah korban yang paling menderita, beragam cara ditempuh untuk dapat melanjutkan hidup, ditengah kondisi ekonomi yang semakin sulit diakses oleh perempuan,” terang Rosinah.

Lanjut Rosinah, ada enam hal yang menjadi perhatian Rumah Perempuan Nelayan sebagai dampak dari perubahan iklim yang dihadapi oleh perempaun. Pertama, Persoalan kesehatan perempuan dan anak, menjadi satu hal yang masih melingkupi hidup perempuan.

“Kedua, pendidikan anak, air bersih, pemukiman yang rusak, limbah sampah yang bertumpuk dan bau, alat-alat tangkap yang rusak, berkurangnya hasil tangkap semakin mempertaruhkan kehidupan nelayan dalam menara kehidupan yang lebih baik,” tegas Rosinah.

Ketiga, persoalan BBM subsidi bagi nelayan serta persoalan permodalan bagi nelayan. Keempat, meningkatnya anggota keluarga nelayan yang terlilit utang karena pinjaman. “Kelima, cuaca ekstrem yang sulit diprediksi nelayan karena cuaca yang tidak menentu. Dan Keenam, Naiknya muka air laut dan cuaca ekstrem yang melulu lantakan sarana-prasarana perikanan nelayan,” papar Rosinah.

Dalam situasi tersebut perempuan dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif, bagaimana meja makan tetap tersedia, bagaimana anak-anak tetap bisa sekolah, dan bagaimana anak-anak terjaga kesehatannya, yang kesemua hal tersebut harus dibebankankan kepada perempuan.

Di sisi lain, lemahnya perlindungan negara terhadap perempuan pesisir berdampak pada lemahnya akses terhadap program perberdayaan dan perlindungan bagi perempuan, menjadi hal mendasar perjuangan Rumah Perempuan Nelayan.

“Hal ini karena pekerjaan perempuan masih dipandang sebagai pekerjaan kodrati yang tidak bernilai rupiah atau mendapatkan keuntungan. Pekerjaan perempuan sebagai pekerjaan yang tidak berbayar. Dalam ekonomi kapitalis pekerjaan perawatan dan pengasuhan tidak masuk dalam penghitungan pendapatan nasional,” kata Rosinah.

Selain itu, tidak adanya pengakuan negara terhadap perempuan nelayan mengakibatkan perempuan sering terlupakan, ini juga diperkuat oleh Undang-Undang No. 7 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan yang belum memberikan ruang dan pengakuan bagi perempuan nelayan sebagai nelayan.

Rosinah menyayangkan, definisi nelayan masih diartikan sebagai yang menangkap ikan. Situasi ini semakin mengsubordinasikan posisi perempuan nelayan dalam mendapatkan informasi, pendidikan, kesehatan pun akses permodalan.

“Melalui momen Pilpres 2024, bersama capres dan cawapres paslon no. 3 Bapak Ganjar-Mahmud mendeklarasikan komitmen dukungan serta mengawal Bapak Ganjar-Mahmud untuk menang pada pemilu presiden 2024 dengan mengusulkan program kerja bagi perempuan nelayan termasuk asuransi, BPJS ketenaga kerjaan, akses air bersih, stanting, sanitasitasi dan pemukiman,” tegas Rosinah.

Lanjut Rosinah, Rumah Perempuan Nelayan mendorong terjadinya komunikasi politik perempuan secara langsung dengan pasangan capres-cawapres Ganjar-Mahmud untuk menyampaikan persoalan sekaligus program yang tepat bagi perempuan dan sekaligus menjadi ruang pendidikan politik bagi perempuan nelayan dalam menyuarakan kepentingan dan aspirasinya

“Bersama Ganjar-Mahfud, jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, akan menjadikan isu Perempuan nelayan ini menjadi isu penting dan prioritas yang akan diperjuangkan dalam program pemerintahan kedepan,” harap Rosinah.

Turun hadir dalam kegiatan Rembuk Iklim Perempuan Nelayan, Deputi Inklusi Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Jaleswari Pramodhawardhani yang menyampaikan 21 program kerja Ganjar-Mahfud. “Perempuan nelayan tanggu, hebat, mandiri dan sejahtera harus diperjuangkan,” pungkas Rosinah.

Laporan: Rumah Perempuan Nelayan
Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.