Sungai Brantas Tercemar Mikroplastik, 12 Ribu Orang Minta Pemerintah Tetapkan Baku Mutu Kandungan Mikroplastik Pada Industri | Villagerspost.com

Sungai Brantas Tercemar Mikroplastik, 12 Ribu Orang Minta Pemerintah Tetapkan Baku Mutu Kandungan Mikroplastik Pada Industri

Petisi selamatkan sungai Brantas dari pencemaran mikroplastik (dok. change .org)

Jakarta, Villagerspost.com – Sungai Brantas sebagai salah satu sungai terpanjang di Pulau Jawa kini tercemar mikroplastik. Belum lama ini, Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) Foundation melakukan penelitian di Sungai Brantas. Mereka menemukan kandungan mikroplastik pada air sungainya, pada 72% ikan dan pada feses manusia sampel uji.

“Pas kami lakukan uji lab kepada 51 orang yang tinggal di Brantas, fesesnya POSITIF terkandung 5,38 partikel Mikroplastik/10 gram feses. Begitu pula di dalam air sungai, kandungan mikroplastiknya sebanyak 1,47- 41,32 partikel/liter,” tulis ECOTON dalam petisi yang bisa diakses di www.change.org/BrantasBebasMikroplastik.

Dalam petisi, ECOTON menjelaskan mikroplastik ini asalnya dari sampah plastik, tas kresek, styrofoam, dan popok sekali pakai yang banyak dibuang ke sungai. Limbah dari 12 pabrik kertas yang ada di sepanjang sungai Brantas juga menjadi penyebab tercemarnya sungai dengan mikroplastik. Selain itu mikroplastik ini juga berasal dari microbeads atau scrub plastik yang terdapat di dalam produk-produk kecantikan dan kebersihan seperti, odol, lulur kecantikan, dan facial wash/pembersih muka yang banyak dibuang ke sungai.

Andreas Agus Kristanto Nugroho, peneliti ECOTON menjelaskan, jika mikroplastik dibiarkan dapat merusak ekosistem dan berbahaya bagi kesehatan manusia, mengingat sungai Brantas merupakan penyokong 20% pangan nasional karena digunakan untuk air minum dan irigasi tanaman.

Andreas menjelaskan, mikroplastik bisa mengganggu metabolisme dan hormon karena ada senyawa Senyawa Pengganggu Hormon (SPH). Efek paling ringannya diare, dan yang paling parah bisa memicu kanker serviks, payudara, kelenjar getah bening, kulit dan nasofaring.

Kebijakan untuk mengelola sampah rumah tangga dan sejenis sebenarnya sudah diatur lewat Peraturan Presiden No 97/2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga dan Peraturan Pemerintah No 82/2001 tentang Pengendalian Pencemaran Air dan Pengelolaan Kualitas Air.

Sementara untuk produsen produk-produk yang menggunakan kemasan plastik sudah diatur melalui program perluasan tanggung jawab produsen (Extended Producer Responsibility/ EPR).

Namun menurut Tonis Afrianto, juru bicara ECOTON, kedua program tersebut belum berjalan dengan efektif. Di lapangan masih banyak produsen yang belum melakukan program EPR. Sampah dari kemasan produk mereka masih berserakan dan berakhir di sungai.

Sementara untuk industri kertas, penetapan baku mutu kandungan mikroplastik pada limbahnya belum diatur. Lewat petisi, ECOTON meminta kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk segera menangani mikroplastik ini dengan cara menetapkan Baku Mutu Kandungan Mikroplastik dalam limbah cair pada industri, khususnya industri kertas di Indonesia.

“Kami butuh dukunganmu untuk menandatangani dan menyebarkan petisi ini. Karena dengan semakin banyak dukungan, makin besar peluang membebaskan Sungai Brantas dari Ancaman Mikroplastik, sebelum terlambat!” tutup Tonis.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *