Susi Ajak Masyarakat Boikot Plastik Sekali Pakai

Aksi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membersihkan pantai dari sampah plastik (dok. kkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengajak masyarakat untuk menghentikan pemakaian plastik sekali pakai seperti kresek. Dengan begitu, permintaan plastik sekali pakai pun akan berkurang sehingga para produsen diharapkan mulai mengurangi produksi kresek untuk bergeser ke bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.

“Kalau kita boikot tidak mau pake kresek kan pabrik kresek juga berhenti. Betul tidak? Jadi, tinggal maunya siapa yang mulai duluan. Pabrik yang produksi kresek atau kita,” kata Susi, saat memimpin aksi membersihkan pantai lewat gerakan ‘Menghadap Laut 2.0’, pada Minggu (18/8)

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Pantai Timur Ancol, Jakarta itu, Susi mengingatkan, pemakaian plastik sekali pakai, dapat mengancam keberlangsungan ikan di laut. Hal ini dikarenakan plastik membutuhkan puluhan tahun untuk hancur sehingga sampah plastik yang bermuara di laut dapat termakan oleh ikan.

Padahal, ikan merupakan sumber protein yang penting untuk kesehatan dan kecerdasan SDM. “Kita bersihkan laut supaya lautnya sehat, ikannya banyak untuk dimakan banyak oleh orang Indonesia yang banyak. Kalau ikannya sedikit, ya tidak cukup,” katanya.

Tahun 2030 diprediksikan akan lebih ada lebih banyak plastik daripada ikan di laut akibat masifnya limbah plastik sekali pakai yang berujung ke laut. Ironisnya, laut Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar kedua di dunia, setelah Cina. Hal ini mengancam lebih dari 800 spesies biota laut, termasuk ikan dan terumbu karang.

Dalam kegiatan itu, melihat sampah yang mayoritas berupa limbah kain yang diikat dengan plastik berserakan di sekitar pantai, Susi memperkirakan adanya pihak-pihak yang secara sengaja membuang sampah limbah tekstil di wilayah itu. “Dari sampah yang ada di sini, saya lihat ada kesengajaan membuang sampah limbah tekstil. Mungkin dari konveksi, sisa-sisa bahan bikin kaos-kaos diikat lalu dibuang saja kemari,” ujarnya.

Susi mengimbau agar perusahaan-perusahaan tidak membuang sisa-sisa limbah ke laut dan pantai secara sengaja. Ia akan menginvestigasi hal ini dan mengirimkan alat berat (eskavator) untuk membersihkannya.

“Mungkin dia pikir ‘ah kain kan nanti lama-lama juga sobek sendiri’. Tapi kan sudah cukup bikin kotor. Lilitnya pakai plastik, ya plastiknya tidak bisa hilang. Nah, sebagian terkirim lagi di pinggir seperti kalian lihat di sini,” ucapnya.

Susi juga mengimbau perusahaan-perusahaan yang masih memakai plastik sekali pakai untuk segera mengalihkan produksinya ke bahan lain yang lebih tahan lama seperti tumblr dan tas ganepo. “Jadi, perilaku bisnis pun dalam mencari keuntungan bisa di-shifting, bisa dirubah, bisa diganti,” pesannya.

Dari kegiatan bersih pantai di Pantai Timur Ancol, Susi bersama para relawan yang hadir berhasil mengumpulkan total 7.525,3 kg sampah yang terdiri dari 409,6 kg soft plastic; 107,6 kg hard plastic; 23 kg kertas; 395,6 kg karet; 6.119 tekstil; 187,2 kg kayu olahan; 2,6 kg logam; 129,3 kg kaca dan keramik; 3,9 kg b3; serta 147,5 kg bahan lainnya.

Susi mengatakan, gerakan Menghadap Laut yang telah dilaksanakan ini merupakan bukti kebersamaan masyarakat dunia dari berbagai latar belakang suku bangsa, profesi, dan suku yang berjuang untuk menjaga laut dari ancaman sampah yang mengtorinya.

“Jadi ayo kita semua juga mulai, bukan hanya membersihkan sampahnya tapi juga mulai kurangi pemakaian plastik sekali pakai. Tidak bawa kresek, tidak bawa botol air. Bukan cuma pencuri ikan, pengotor laut dan pemakai plastik sekali pakai juga tenggelemin aja!” serunya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *