Susul Poopoh, Desa Popareng Jadi Role Model Ekowisata di Kawasan TN Bunaken

Pengibaran bendera merah putih, dalam rangka peluncuran desa ekowisata Popareng, sekaligus perayaan HUT RI ke-73 (villagerspost.com/eko handoyo)

Minahasa Selatan, Villagerspost.com – Menyusul Desa Poopoh, Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan, juga ikut ditetapkan sebagi role model desa berbasis wisata alam (ekowisata) di kawasan Taman Nasional Bunaken. Pengukuhan tersebut dilaksanakan pada 18 Agustus lalu, masih dalam suasana suka cita perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-73.

Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu dalam sambutannya mengapresiasi dan menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak terkait dalam upaya mewujudkan Desa Popareng sebagai role model desa ekowisata. Pihak yang terlibat antara lain Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia melalui Balai Taman Nasional Bunaken, Lantamal VIII, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara.

“Kiranya ini akan memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah yang berbasis lingkungan serta berbudaya dan berkepribadian,” kata Christiany.

Dia menegaskan, ekowisata adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Karena itu, menurut Christiany, ada delapan hal yang harus diperhatikan untuk mewujudkan ekowisata.

perlombaan mewarnai bagi anak-anak dalam rangka peluncuan Popareng sebagai role model desa ekowisata (villagerspost.com/eko handoyo)

“Pertama, meminimalkan dampak fisik, sosial, perilaku, psikologis. Kedua, membangun kesadaran lingkungan budaya dan rasa hormat. Ketiga, memberikan pengalaman positif bagi pengunjung dan tuan rumah,” ujarnya.

Keempat, memberikan manfaat keuangan langsung bagi konservasi atau pelestarian lingkungan. Kelima, menghasilkan keuntungan finansial bagi masyarakat lokal. Keenam, memberikan pengalaman interpretatif yang mengesankan bagi pengunjung untuk meningkatkan sensitivitas terhadap iklim politik, lingkungan, sosial tempat tujuan wisata.

“Ketujuh, membangun, mengoperasikan fasilitas atau insfrastruktur dengan meminimalkan dampak lingkungan, serta kedelapan, mengakui hak-hak, keyakinan spiritual komunitas adat dan memberdayakannya,” tegas Christiany.

Dalam kegiatan launching bertema “Harmonisasi Alam dan Budaya” itu, juga dilaksanakan berbagai agenda seperti pemberian bantuan kepada kelompok Cahaya Tatapaan dalam bentuk motor katinting dari Balai Taman Nasional Bunaken dan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara.

Ada pula pemberian bantuan bibit tanaman buah-buahan dari Lantamal VIII, peralatan tangkap jaring ikan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa Selatan serta penyerahan Surat Keputusan Bupati Minahasa Selatan Nomor 37 Tahun 2017 tanggal 3 Juli 2017 tentang penetapan Desa Wisata dari Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan ke Pemerintah Desa Popareng.

Dalam kegiatan yang juga merupakan rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (road to HKAN) serta memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tersebut, juga diperkenalkan beberapa obyek wisata andalan di Desa Popareng, antara lain wisata menyusuri mangrove, wisata snorkelling dan diving, pengamatan burung (birdwatching), dan wisata budaya batu tada.

Ada juga wisata batu tumanik, waruga serta ketersediaan homestay pada rumah-rumah penduduk yang bertarif Rp300 ribu per malam. Adapun jasa yang tersedia layanan mengantarkan wisatawan dengan perahu katinting dan masakan tradisional.

Bazaar masakan dan demo pembuatan stik ikan oleh anggota kelompok Cahaya Tatapaan, binaan TN Bunaken (villagerspost.com/eko handoyo)

Dalam kegiatan tersebut disempatkan mengunjungi homestay yang ada di Popareng serta dilaksanakan beberapa perlombaan seperti lomba memasak ibu-ibu, panjat batang pisang, dan menggambar untuk anak SD, serta menampilkan produk-produk lokal masyarakat seperti bakso ikan, keripik dan abon ikan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si dalam sambutannya menyampaikan, launching role model ekowisata bersama masyarakat dan desa wisata Popareng dilakukan untuk memacu kesiapan kelompok Cahaya Tatapaan dan Desa Popareng dalam mengembangkan ekowisata.

“Bulan April 2018, kami telah menyampaikan pembelajaran penting dalam menggerakan komunitas, khususnya Desa Popareng dalam pertemuan BIMP-EAGA di Kinabalu Malaysia. Harapan kami terhadap pemerintah desa utamanya dapat mendorong serta memanfaatkan potensi-potensi yang ada,” ujarnya.

“Dalam rangka menyiapkan role model ekowisata bersama masyarakat kami telah menguatkan kapasitas kelembagaan kelompok masyarakat melalui pendampingan intensif, pengembangan ekonomi kreatif, promosi usaha dan produk serta mengkomunikasikan pada berbagai pihak dalam pengembangan ekowisata,” tambah Farianna.

Puncak acara peluncuran desa ekowisata Popareng yang bertempat di Pantai Popareng, ini dikemas dalam bentuk kampanye kelompok Cahaya Tatapaan sebagai kelompok mitra Taman Nasional Bunaken yang mengembangkan ekowisata di zona tradisional. Acara launching dihadiri oleh berbagai perwakilan dari Pemerintah dan masyarakat, Aspotmar Lantamal VIII, Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara.

Hadir pula perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa Selatan, Camat Tatapaan serta Hukum Tua Popareng selaku tuan Rumah acara serta Tokoh agama. Menandai Launching Role Model para pihak melepaskan burung dara secara bersama-sama

Laporan: Eko Wahyu Handoyo, S.Hut, PEH pada Balai Taman Nasional Bunaken

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *