Tahun Baru dan Rencana Impor Pangan Pemerintah

Beras di gudang Bulog. Pemerintah akan melakukan impor beras untuk mengamankan kebutuhan tahun 2016 (dok. setkab.go.id)
Beras di gudang Bulog. Pemerintah akan melakukan impor beras untuk mengamankan kebutuhan tahun 2016 (dok. setkab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah selama ini terus membanggakan angka impor yang diklaim semakin menurun, khususnya untuk impor bahan pangan. Pemerintah juga kerap berharap penurunan angka impor pangan ini bakal bisa menyejahterakan petani. Penurunan impor pangan ini juga sering diiringi dengan kabar tercukupinya stok pangan karena produksi pangan khususnya beras diklaim meningkat dan tak terganggu fenomena el nino yang membawa kekeringan panjang selama tahun 2015 ini.

Sayangnya, di sisi lain pemerintah sendiri kerap terlihat “panik” dan meragukan klaim-klaimnya itu. Buktinya, saat menutup tahun 2015 kemarin, pemerintah justru terlihat sibuk membicarakan masalah impor khususnya beras. Dalihnya adalah demi menjaga kestabilan harga pangan seperti beras, daging sapi, gula dan kedelai.

Dalam rapat koordinasi terkait masalah pangan di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Kamis (31/12) kemarin, isu yang mengemuka adalah rencana pemerintah untuk melakukan impor beras. Menko Perekonomian Darmin Nasution beralasan impor beras perlu dilakukan karena diperkirakan panen raya 2016 akan mundur 1 bulan akibat mundurnya musim tanam 2015 karena el nino.

Di sisi lain, stok beras di gudang Bulog berjumlah sekitar 1 juta ton beras dimana 485 ribu ton diantaranya adalah beras impor dari Vietnam dan Thailand yang didatangkan untuk memperkuat stok Bulog. Seperti diketahui, pemerintah telah memesan dari Vietnam dan Thailand sebanyak 1,5 juta ton.

Akhir Maret 2016 nanti, kata Darmin stok beras Bulog akan mencapai angka 1,35 juta ton jika seluruh rencana impor 2015 terealisasi. Masa-masa itu, kata Darmin adalah masa panen raya, sehingga persediaan pangan di bulan Februari-Maret menjadi penting karena periode itu merupakan akhir musim paceklik.

Darmin mengungkapkan bahwa stok Bulog pada akhir tahun ini berada di kisaran 1 juta ton beras, 485 ribu ton diantaranya adalah beras impor yang didatangkan Vietnam dan Thailand untuk memperkuat stok Bulog. Jika seluruh beras impor yang dipesan dari kedua negara itu sudah tiba seluruhnya, stok Bulog di akhir Maret menjelang panen raya padi maka stok Bulog akan mencapai 1,35 juta ton.

“Itu betul-betul ujung masa paceklik. Di Maret-April produksi mulai normal, dampak el nino terlewati dengan baik. Jadi setelah April kita percaya situasi sudah normal lagi,” kata Darmin dalam rapat tersebut.

Karena itulah, pemerintah, kata Darmin berencana menambah stok dengan melakukan impor beras dari beberapa negara lain. Selain dari Thailand dan Vietnam yang sudah berjalan, pemerintah juga akan menjajagi impor dari Pakistan dan Myanmar.

“Penjajakan ini dilakukan untuk berjaga-jaga seandainya ternyata stok beras di dalam negeri masih belum mencukupi. Tidak berarti seluruh kekurangan itu nanti buru-buru diimpor. Kita pesan dulu di luar, kalau memang betul diperlukan baru masuk,” terang Darmin.

Pemerintah perlu memperkuat stok dengan alasan akan terus menjaga kestabilan persediaan beras di masyarakat dengan melakukan operasi pasar di bulan Januari-Februari 2016. Ini termasuk jatah beras untuk warga miskin yang dinamakan beras sejahtera yang jumlahnya mencapai 230.000 ton per bulan untuk 15,5 juta keluarga.

Darmin mengatakan, impor beras sangat diperlukan karena adanya serangan el nino yang membuat kekeringan di sejumlah daerah di Indonesia. El nino juga membuat musim tanam yang harusnya dimulai Oktober lalu mundur, akibatnya panen raya di 2016 pun juga bakal mundur 1 bulan.

Bila impor tak dilakukan, kata Darmin, maka setelah stok Bulog sebanyak 1,35 juta itu habis di akhir Maret, maka pemerintah tak punya stok beras lagi. “Kalau nggak termasuk (impor) itu, paceklik ini akan gawat,” kata Darmin memberikan alasan.

Pemerintah, kata Darmin, tidak mau kejadian tahun 1997 berulang, dimana akibat el nino pemerintah terpaksa mengimpor beras hingga 7 juta ton karena masyarakat panik. Angka itu jauh di atas kebutuhan riil dan pemerintah terpaksa melakukan pembelian panik atau panic buying demi menenangkan masyarakat.

Namun yang terjadi bukannya stok aman, tetapi masyarakat bertambah panik dan memborong beras di pasaran karena takut kehabisan. Harga beras pun tetap melambung tinggi karena stok tetap tak terjaga. Itu terjaid karena awalnya pemerintah tak mengantisipasi dampak el nino 1997. Pemerintah di awal hanya mengimpor beras sebanyak 400-an ribu ton.

“Waktu itu kita belum mengerti, kurang sensitif memahami kalau musim tanam bergeser itu dampaknya bagaimana. Karena iru tidak ada persiapan, akhirnya perlu impor beras 7 juta ton. Kalau oran g panik, ada beras dengan harga berapa pun dibeli,” ujar Darmin.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.