Terapkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Iklim Pemdes Nunuk Tetapkan Musim Semai Padi

Para anggota PPTPII Indramayu melaksanakan evaluasi pengamatan curah hujan (dok. villagerspost.com/tarsono)

Indramayu, Villagerspost.com – Pemerintah Desa Nunuk, di bawah kepemimpinan Kuwu (Kepala Desa) Mashadi, S.Ip., mulai menerapkan sistem bertani yang memanfaatkan pengetahuan kearifan lokal plus pengetahuan tentang iklim dalam menentukan musim tanam. Dengan menghitung beberapa faktor, Pemdes Nunuk telah menetapkan tanggal 10-15 Desember 2019 sebagai musim semai padi

Keputusan tersebut diambil melalui forum musyawarah rembuk desa yang yang melibatkankan tokoh masyarakat, sesepuh, pinisepuh, RT/RW kelompok tani, gapoktan, dan para anggota perkumpulan petani tanggap perubahan iklim (PPTPII). Ada empat faktor yang dipakai pihak Pemdes Nunuk yang dipakai untuk menetapkan musim semai, yang semuanya berbasis kearifan lokal dan pengetahuan tentang iklim yang selama ini dipelajari petani yang tergabung dalam PPTPII.

Pertama, koordinasi dengan PU pengairan dan mendengar informasinya bahwa ada pembangunan modernisasi Rentang Kiri Cipelang (induk barat & induk utara) akan dimulai tahun 2020. Hal ini akan mengurangi debit air hingga 50% sumber dari PU pengairan (6/12).

Kedua. Kondisi Iklim dan skenario musiman atau prediksi curah hujan. Berikut isi skenario musiman: “Skenario musiman dari Prof. Sue Walker tanggal 2/12/2019. Saat ini ENSO (El Nino Southern Oscillation) berada dalam kondisi Netral dan diprakirakan akan tetap Netral untuk musim-musim yang akan datang. Akan tetapi, suhu permukaan laut naik secara tajam pada bulan yang lalu dan terdapat kemungkinan kondisi El Nino lemah meningkat drastis selama periode bulan Desember 2019-Januari-Februari 2020//Dikirim oleh Yunita-UI”.

Tafsir skenario musiman: “Perlu diingat kondisi netral memang susah ditebak, tapi melihat isi skenario tersebut bahwa ada kemungkinan El-Nino lemah bisa saja curah hujan dibawah 170 mm pada bulan Desember, 120 mm bulan Januari, data diambil dari Probabilitas TSNK20”

Ketiga. Sistem genggong (bahasa jawa-menghindar) dihitung dari masa penerbangan hama kupu yang masuk dalam perangkap hama, diharapkan hitungan itu pada masa primordia bisa lolos dari hama penggerek batang atau bebeluk.

Keempat, pranata mangsa pengetahuan lokal atau penelitian orang tua dulu, dalam memprediksi musim tanam padi.

“Semoga informasi ini bisa dipahami para sedulur tani desa Nunuk dan sekitarnya,” kata Kuwu Mashadi.

Laporan: Tarsono, Petani Muda Anggota PPTPII Indramayu, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com
Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *