Tinjau Kampung Rumput Laut Sidoarjo, Susi Janji Bantu Pemasaran | Villagerspost.com

Tinjau Kampung Rumput Laut Sidoarjo, Susi Janji Bantu Pemasaran

Petani rumput laut di Nusa Lembongan Bali memilah rumput laut hasil panen (villagerspost.com/m. agung riyadi)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengapresiasi usaha budidaya rumput laut yang ditekuni masyarakat Kampung Rumput Laut di Dusun Tanjungsari, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur. Susi menjanjikan, akan membantu warga sekitar mencari pasar ekspor yang lebih baik untuk menampung rumput laut hasil budidaya masyarakat.

“Saya lihat Bapak dan Ibu semua sudah cukup. Rumput lautnya sudah mencukupi bisa bikin semua senang, hidup tidak susah, kalau berlebih itu tentunya cita-cita kita semua. Tapi kan paling tidak, sudah tidak susah tho dengan adanya rumput laut? Alhamdulillah,” kata Susi, saat melakukan kunjungan ke desa tersebut, Sabtu (9/2).

Susi mengakui, selama ini China masih menjadi pasar rumput laut terbesar, namun kartel perdagangan yang diterapkan China membuat pasar negara Tirai Bambu itu sulit ditembus. Meskipun begitu, Menteri Susi meminta masyarakat untuk tidak berputus asa. Ia berjanji akan mencarikan pasar alternatif lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Susi menyarankan agar koperasi warga sekitar mengajukan pinjaman ke Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP). “BLU LPMUKP menyediakan pinjaman dengan bunga yang jauh lebih kecil dibandingkan bank, yaitu hanya sebesar 3 persen,” terang Susi.

Susi juga menyarankan pembudidaya rumput laut untuk mengurus resi gudang (dokumen bukti kepemilikan barang yang disimpan di gudang), sehingga untuk dapat meminjam modal ke bank tidak diperlukan jaminan lainnya.

Warga sekitar memang telah menggantungkan hidup pada budidaya rumput laut yang diintegrasikan dengan udang dan bandeng. Ketua Kelompok Pembudidaya Rumput Laut, H. Mustofa mengatakan, di musim kemarau, setiap bulannya masyarakat dapat panen hingga 600 ton rumput laut kering.

Namun, di musim penghujan seperti Januari 2019 lalu, masyarakat hanya menghasilkan sekitar 197 ton rumput laut kering. Rumput laut ini dijual dalam rentang harga Rp5.800-Rp7.500 per kilogramnya. Untuk menyiasati musim penghujan, Susi menyarankan warga membangun para-para untuk menjemur rumput laut agar dapat kering meskipun tidak disinari matahari.

Mustofa mengaku, rumput laut produksi kelompoknya sudah mampu memenuhi kriteria ekspor dengan kadar air 15 persen, tingkat kebersihan tinggi, dan proses pengolahan yang memenuhi standardisasi. Namun untuk menunjang itu semua, Susi menginginkan KKP memberikan bantuan bibit rumput laut yang dikembangkan dengan teknik kultur jaringan.

“Saya minta hasil teknik kultur jaringan, supaya nanti kualitasnya lebih sehat lagi. Jadi kalau lebih sehat nanti hasilnya lebih banyak lagi untuk bapak dan ibu semua,” tegas Susi.

Susi juga tak lupa mengingatkan warga sekitar untuk memperhatikan pengelolaan sampah, utamanya sampah plastik. Ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai karena dapat mencemari lingkungan, terlebih lagi Kampung Rumput Laut berada dekat dengan laut.

Usai ramah-tamah dengan warga, Susi melanjutkan kegiatan dengan menyaksikan aktivitas budidaya udang vaname. Susi juga meninjau fasilitas gudang penyimpanan rumput laut yang sudah dikemas dan siap kirim.

Dalam kesempatan itu, Susi juga meninjau fasilitas pembersihan rumput laut, menyaksikan aktivitas pengolahan rumput laut oleh Ibu-ibu anggota koperasi Kelompok Budidaya Kampung Rumput Laut dan mengunjungi lokasi tambak warga yang berada dekat dengan lokasi penggilingan rumput laut.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *