Tinjau Ulang Kebijakan Tanam Padi Secara Terus Menerus

Areal persawahan terkena serangan hama wereng coklat (dok. pertanian.go.id)
Areal persawahan terkena serangan hama wereng coklat (dok. pertanian.go.id)

Lampung Tengah, Villagerspost.com – Para petani di Kabupaten Lampung Tengah meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan tanam padi secara terus menerus tanpa jeda tanam. Pasalnya, sistem ini justru membuat tanaman padi rawan terkena berbagai penyakit dan serangan hama. Musim tanam ini misalnya, para petani terpaksa harus sering mengadakan pertemuan membahas serangan penyakit tanaman padi dan hama yang menyerang sawah mereka.

Umumnya, hama dan penyakit yang menyerang sawah mereka adalah wereng coklat, kepinding tanah, blas, dan lain-lain. Alhasil belakangan ini, petani hanya disibukkan dengan upaya membasmi penyakit dan hama yang menyerang tanaman padi. Yang menjadi ironi, setiap kali pertemuan ini diadakan, selalu dimanfaatkan oleh para sales pestisida untuk menjual produk-produk mereka. Yang lebih parah, hampir semua jenis pestisida yang ditawarkan adalah produk impor.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) desa Pujo Asri Lampung Tengah Basori mengatakan, jika pada musim ini petani banyak yang gagal panen, maka petani akan mengusulkan, tanam padi setelah musim rendeng (musim tanam utama) nanti diselingi dengan tanaman palawija seperti jangung atau singkong. “Sehingga ini akan memutus rantai penyakit tanaman padi sawah dan mengembalikan unsur hara yang terkandung dalam tanah,” katanya kepada Villagerspost.com, Sabtu (10/9).

(Baca juga: Kelompok Tani Maju Lampung Tengah, Bersatu Lawan Wereng Coklat)

Ide Basori ini mendapat dukungan dari para petani Lampung Tengah. Sujianto, petani dari desa Pujo Kerto mengatakan, musim tanam yang terus menerus akan merugikan petani, pasalnya jika musim kemarei petani gagal panen maka petani merugi. “Kemudian menanam padi dan gagal panen lagi, sama saja petani merugi dua kali, dan jika petani bisa panen maka sama saja petani tidak panen,” katanya.

Dia menegaskan, untuk memutus rantai penyakit pada tanaman padi sawah, tanaman padi sawah harus diselingi dengan tanaman palawija. “Ini agar unsur hara yang terkandung dalam tanah dapat kembali sempurna,” ujarnya.

Senada dengan ini, petani di desa Buyut Udi Lampung Tengah Basirudin yang juga Anggota Gerakan Petani Nusantara mengatakan, serangan wereng coklat juga menyerang di desanya, dan banyak petani yang merugi. Basirudin juga mengimbau kepada pemerintah agar memperhatikan nasib petani yang sawahnya terkena serangan penyakit dan hama akibat menjalankan program pemerintah ini.

“Jangan sampai petani menjadi obyek bagi pengusaha bibit tanaman, obat-obat tanaman, mesin-mesin seperti traktor dan lain-lain,” tegas Basirudin.

Dia menekankan, pemerintah harus bisa membuat petani mandiri. Misalnya tersedianya bibit tanaman yang tahan terhadap serangan hama, ketersediaan pestisida, herbisida, fungisida yang rahmah lingkungan, dan tersedianya pupuk yang ramah lingkungan serta murah. “Perlu juga ada subsidi harga hasil panen,” kata Basirudin.

Jika pemerintah cermat dalam mengambil kebijakan mengenai nasib petani, maka kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan cita-cita swasembada padi akan tercapai. Basirudin mengkritik program tanam padi terus menerus yang dicanangkan pemerintah. Dia menilai, satu kali tanam padi ditambah satu kali tanam padi lagi hasilnya tidak selalu sama dengan dua kali panen padi.

Seperti di tahun ini satu kali tanam padi dan hasilnya tidak panen alias merugi dan sekarang tanam padi lagi baru kemudian hasilnya panen. “Hasilnya sama saja petani tidak panen, karena hasil panen yang berhasil, dipakai untuk menutup kerugian sebelumnya. Bahayanya jika petani nantinya tidak panen lagi, petani merugi dua kali,” terang Basirudin.

“Untuk itu, kebijakan menanam padi secara terus menerus agar ditinjau ulang, jika pemerinta tidak dapat menyediakan kebutuhan petani,” pungkasnya.

Laporan: Nanang Susanto, Petani Lampung Tengah, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Ikuti informasi terkait serangan wereng coklat >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *