Trawl Masih Marak Beroperasi, KNTI Tanjungbalai Asahan Gelar Aksi Protes

Aksi unjuk rasa para nelayan dan anggota KNTI Tanjungbalai Asahan memprotes masih maraknya operasi kapal-kapal trawl atau pukat (dok. knti)

Tanjungbalai-Asahan, Villagerspost.com – Dewan Pimpinan Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Tanjungbalai-Asahan Provinsi Sumatera Utara melakukan aksi unjuk rasa memprotes masih dibiarkannya kapal-kapal trawl beroperasi di perairan Pantai Timur Sumatera Utara. Padahal dalam berbagai kebijakan mulai dari UU Perikanan, Perikanan Republik Indonesia Nomor 71/PERMEN-KP/2016 tentang Jalur Penangkapan Ikan Dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan, trawl sudah dilarang.

“Tuntutan aksi hari ini adalah kepada aparat keamanan mulai dari kepolisian dan angkatan laut untuk menegakkan aturan tanpa pandang bulu terhadap pemilik dan pengguna kapal trawl,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Tanjungbalai-Asahan Muslim Panjaitan, Kamis (18/7).

Muslim mengungkapkan, bulan Juli lalu, dia bersama anggotanya telah memergoki sejumlah kapal pukat trawl beroperasi secara bebas di tengah laut. “Lebih kurang sebulan yang lalu kami dari tim DPD KNTI Tanjungbalai Asahan melakukan pemantauan langsung ke laut, ternyata benar informasi dari nelayan yang sangat resah kapal dengan alat tangkap terlarang ini,” ujar Muslim.

Para nelayan mendesak aparat kepolisian dan TNI menindak tegas pemilik kapal-kapal trawl dan menghentikan operasinya (dok. knti)

Muslim mengungkapkan, pada saat turun ke laut, kapal pukat trawl yang dipergoki KNTI sedang beroperasi di laut berlokasi sekitar Jermal 2 dengan titik koordinat Lu 3’2’33 bt 99’51’58”. “Kami juga sempat mengabadikan sejumlah kapal pukat trawl berkumpul di tengah laut di siang hari,” ujarnya.

Dia mengaku heran dengan banyaknya kapal pukat trawl mini maupun yang berukuran besar beroperasi di laut menggunakan alat tangkap terlarang. Kapal-kapal sepertinya luput dari pengawasan petugas keamanan laut. “Jika terus dibiarkan, akan berdampak buruk terhadap keberlangsungan terumbu karang tempat bagi beragam jenis biota laut,” ujar Muslim.

Selama sebulan melakukan pengawasan langsung ke tengah laut, KNTI telah memergoki beberapa kali kapal pukat trawl beroperasi. “Sebanyak tiga kali dalam satu bulan itu kami melihat banyak kapal pukat trawl beroperasi secara bebas. Tapi anehnya, dari pantauan kami tidak satupun kapal patroli kami temukan, ini yang membuat kami menduga ada upaya pembiaran,” tegasnya.

Muslim mengungkapkan, jumlah kapal pukat trawl mini yang terdata di Tanjungbalai sekitar 80 unit, sedangkan Asahan mencapai 300 unit. “Itu data dari Dinas Perikanan, lain lagi kapal pukat trawl besar mencapai 50an unit di Tanjungbalai. Informasinya 8 unit kapal pukat trawl besar dari Tanjungbalai sudah jalan. Namun kapal ini masuknya dari Belawan, kalau jumlah pastinya belum kita dapatkan,” kata Muslim.

KNTI khawatir jika tidak ada tindakan tegas akan berujung terjadinya konflik karena aksi pembakaran kapal trawl oleh nelayan sudah sering terjadi (dok. knti)

Masih bebasnya kapal-kapal trawl atau pukat ini beroperasi dinilai sangat mengherankan karena aparat sudah memiliki payung hukum, yakni UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, dan mengacu pada Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan No.71/PERMEN-KP/ 2016. Namun kelihatannya peraturan ini tidak berlaku di wilayah Indonesia, khususnya di Selat Malaka.

“Terbukti masih menjamurnya trawl yang beroperasi saat ini di laut, yang menghancurkan ekosistem dan biota laut. Hal ini sangat berpengaruh besar terhadap keberlangsungan nasib nelayan tradisional yang mencari nafkah di laut,” ujar Muslim.

Karena itu, KNTI Tanjungbalai-Asahan mendesak pihak Polda Sumatera Utara merespons keresahan nelayan atas beroperasinya trawl secara bebas ini. “Kita minta Kapoldasu perintahkan seluruh personelnya di daerah untuk lebih serius mengawasi dan menggelar patroli di laut,” tegasnya.

Dia khawatir, jika keresahan ini tidak segera direspons, maka akan timbul bentrokan antara nelayan dengan pemilik kapal trawl. “Jika kapal pukat trawl masih beroperasi di laut dapat menimbulkan hal yang tidak diinginkan, sebab beberapa kali sudah terjadi aksi pembakaran kapal pukat trawl,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *