Triawan: Sarjana Psikologi, Bersemangat Ikut Transmigrasi

Para calon transmigran diberi pelatihan mengolah lahan di Balai Latihan Transmigrasi di Yogyakarta (dok. bblm yogyakarta)

Jakarta, Villagerspost.com – Triawan (44) adalah seorang sarjana psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sementara istrinya seorang sarjana peternakan. Hidup Triawan dan istrinya dengan dua anak berusia 7 dan 3 tahun, sebenarnya mencukup. Dia memiliki usaha laundry, sementara sang istri punya usaha katering. Namun keinginan untuk meraih hidup yang lebih baik, membuat Triawan memutuskan untuk ikut program transmigrasi.

Triawan merupakan salah seorang dari 72 calon transmigran asal Dusun Mandingan, Desa Ringinharjo, Bantul, Yogyakarta ini ikut diberangkatkan menuju Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Bulungan, Kalimantan Utara, pada Selasa (25/9) lalu. Triawan mengaku bersemangat untuk ikut transmigrasi karena ingin memiliki harapan masa depan yang lebih baik.

Dengan usaha laundry yang sudah dijalani selama lima tahun dan usaha makanan sang istri, kata Triawan, sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kehidupannya. Tapi, dia memiliki mimpi dan cita-cita untuk anaknya.

“Saya usaha laundry sudah lima tahunan tapi seperti tidak berkembang, untuk sekadar hidup sehari-sehari tidak masalah, tapi saya lihat anak semakin besar. Tidak apa-apa saya susah-susah yang penting anak bahagia. Kadang saya mikir di Bantul hidup sudah enak, enak ya enak, santai. Istri juga buka pesanan makanan. Tapi di sini istri gak bisa peternakan juga (istrinya sarjana peternakan), saya nggak ambil psikologi profesi jadi nggak bisa praktik juga. Ya sudah kita transmigrasi, istilahnya dimodalin pemerintah, asal kita bisa gerak,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (27/9).

Harapan itu, menetapkan hatinya untuk memutuskan berangkat trasmigrasi dengan istri, dan neninggalkan kedua anaknya di Bantul supaya bisa berkonsentrasi cari nafkah di sana dan anak mendapat pendidikan lebih baik. “Intinya untuk mengubah kehidupan keluarga saya lebih sejahtera. Untuk masalah emosional seperti kangen iya, berpisah dengan anak itu berat, tapi saya punya tekad untuk lebih baik lagi, jadi saya bertransmigrasi,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Dia bercerita, keputusannya menjadi transmigran beraeal karena mendapat informasi dari saudaranya, kemudian ia mencari informasi sendiri dari internet dan mulai tertarik. “Lihat di sekitar saya sudah stagnan untuk mengembangkan diri siapa tahu di sana bisa berkembang lebih baik. Untuk hidup di sini mungkin bisa, tapi untuk berkembang agak mentok,” paparnya.

Dengan tekad kuat dari hati juga dukungan keluarga, akhirnya ia daftar ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul. Pada 2017, dirinya sempat mencoba daftar namun karena daerah tujuan yang ia cari (Bulungan) belum buka, akhirnya ia urung, tahun 2018 ia daftar lagi dan mendapat tempat yang diinginkan.

Setelah di sana ia dan teman-teman transmigran lainnya akan mendapat rumah, tanah 2 hektare yang terdiri dari lahan 1 & 2, juga mendapatkan jaminan hidup selama lima tahun pada masa transisi di tanah kehidupan baru.

Setelah sampai di tempat tujuan transmigrasi, dia berencana untuk fokus pada pertanian. Ia pun sudah menyiapkan dengan pembekalan ilmu dengan belajar dari internet juga buku, karena basic pendidikannya bukan pertanian, dan calon transmigran mendapat pelatihan sebelum berangkat.

“Kami dapat pelatihan dua kali di kabupaten dan satu kali di provinsi. Sebagai basic cukup lumayan untuk kita memulai. Semua ada praktiknya seperti cara menanam, mengolah tanah, pembibitan, vaksin, dan menetaskan telur.

Selain itu, dapat pelatihan juga dari Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Yogyakarta, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, di sana pelatihannya sudah lebih fokus lagi. “Praktiknya difokuskan, dilatih untuk memanfaatkan lahan basah, karena di Bulungan memang banyak lahan basah,” terangnya.

Walau dirinya tidak memiliki basic pendidikan pertanian, tapi menurutnya kemampuan bisa diasah, ia pun merasa tertolong dengan istrinya yang memiliki basic pendidikan Sarjana Peternakan. Kondisi lahan di Bulungan cocok untuk pertanian, peternakan, dan perkebunan.

“Kalau anak nanti masalah pendidikan dasar dan mengah bisa di sana, tapi untuk kuliah balik ke Jogja lagi. Anak lah yang utama. Kalau saya mikir sendiri, di sini sudah dapat warisan sudahlah, kalau saya mikirin egois diri saya saja ya sudah enak di sini. Tapi mikirin anak,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memberangkatkan 21 Kepala Keluarga (KK) calon transmigran asal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka akan diberangkatkan menuju Tanjung Buka Satuan Permukiman 6B di Kabupatan Bulungan, Kalimantan Utara.

“Dalam program ini kita sudah mempersiapkan lahan mereka. Permukiman juga harus sudah clean and clear. Artinya siap dihuni dan kesiapan aspek kelengkapan serta administrasi sudah selesai,” kata Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT Anwar Sanusi, saat menghadiri acara pelepasan transmigran di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Selasa (25/9).

Anwar menambahkan, para transmigran tersebut telah dibekali dengan pelatihan-pelatihan yang diharapkan akan bisa menambah keterampilan, gagasan, dan ide apa yang harus dikembangkan di wilayah daerah transmigrasi tersebut. Bentuk pelatihan yang diberikan antara lain cara bertani dan beternak. “Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Kemendes PDTT sudah melakukan pelatihan. Semoga menjadi pengalaman bapak-ibu di tanah harapan,” pesannya pada para transmigran.

Para transmigran tersebut, lanjut Anwar, tidak hanya diberikan lahan dan rumah. Mereka juga mendapatkan jaminan hidup selama lima tahun pada masa transisi di tanah kehidupan baru. Jaminan tersebut bukan dalam bentuk uang, melainkan berupa bahan alat-alat stimulan yang dapat mendorong mereka menjadi mandiri.

Wakil Gubernur Yogyakarta, Sri Paduka Pakualam X mengatakan, kerja sama antardaerah harus dilakukan untuk bisa berkembang secara dinamis dan komperhensif. Pola kerja sama tersebut diyakini juga akan mengembangkan potensi dan meningkatkan kesejahteraan.

“Saya menyambut baik penandatanganan MoU ketransmigrasian tahun 2019, sebagai titik awal sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Selamat atas keberangkatan para transmigran sebanyak 21 KK dengan total 72 jiwa ke Bulungan,” katanya.

Secara keseluruhan, jumlah transmigran yang akan diberangkatkan terdiri atas 5 KK (17 jiwa) asal Kota Yogyakarta, 9 KK (32 jiwa) asal Kabupaten Sleman, dan 7 KK (23 jiwa) asal Kabupaten Bantul. Bersamaan dengan keberangkatan para transmigran, pemerintah juga memberikan bantuan berupa genset, solar cell, dan sandang.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *