Tunjukkan Ndesomu: Peluang Bisnis Dalam Membangun Ekonomi Desa

Kegiatan olahraga paralayang di kawasan wisata Gunung Gede, Desa Tatung, Ponorogo (dok pemkab ponorogo)

Jakarta, Villagerspost.com – Mendengar kata ‘ndeso’, selama ini identik dengan sesuatu yang bersifat terbelakang, tidak modern dan tidak keren. Tetapi bagi Dewi Hadi, seorang konsultan UMKM Desa, sifat ‘ndeso’ justru bisa menjadi kekuatan bagi desa-desa, untuk menggerakkan perekonomian desa, khususnya melalui Badan Usaha Milik Desa, terutama di masa pandemi saat ini.

Dewi mengatakan, di masa seperti saat ini, bisnis yang banyak berjalan justru adalah bisnis yang terkait dengan pangan dan kesehatan. Dan hal ini, justru menjadi kekuatan utama dari desa. “Yang bisnisnya jalan, mereka yang memiliki obyek bisnis makanan dan kesehatan. Ketika bicara makanan, ada beberapa hal, salah satunya ketahanan pangan, perikanan, peternakan dan pertanian. Otomatis ada di desa semua,” ujar Dewi, pada acara ‘Provokasi Talk’ yang diselenggarakan oleh Komunitas Provokasi, baru-baru ini.

Ketersediaan sumber-sumber pangan, ditambah dengan potensi alam desa, membuat banyak desa punya peluang mengembangkan bisnis, salah satunya adalah bisnis pariwisata. Banyak desa di Indonesia, kata Dewi memiliki potensi wisata karena memiliki berbagai unsur dalam bisnis wisata yaitu ‘something to see’, ‘something to do’, ‘something to buy’, dan ‘something to remember’.

“To see, ada yang bisa dilihat toh? Viewnya bagus. Tapi kalau kita melihat di situ, paling 10 menit bosan. Makanya perlu unsur lain, misalnya’ to do’ ada nggak? Apa yang kita lakukan ketika kita hadir? Ada unsur kinestetisnya, naik kuda misalnya, itu memperlama waktu kita di desa tertentu,” paparnya.

Kemudian, perlu juga diperkuat unsur lain untuk menggerakkan potensi ekonomi desa lainnya, yaitu ‘something to buy’. “To buy bagaimana BUMDes menggali potensi desa dari sisi something to buy, bisa food dan non food,” ujarnya.

Nah, di sinilah, kata Dewi, potensi menjual sesuatu yang bersifat ‘ndeso’, bisa dilakukan. “Desa, pasti ada makanan khasnya, sehingga kita pulang dari desa tersebut ada yang kita tenteng, something to buy, yaitu food,” jelasnya.

Untuk menggali potensi yang bersifat ‘ndeso’ ini seperti makanan, tradisi, kultur, sejarah dan sebagainya, desa bisa mencari tahu dari berbagai literatur. “Bisa juga mencari tahu kepada leluhur yang masih hidup yang sudah mbah-mbah, dulu itu makanan khasnya apa, minuman khasnya apa,” tambah Dewi.

Banyak desa yang berhasil mengembangkan potensi ‘ndeso’-nya dari sisi makanan khas ini. Misalnya, di Bantul, yang memiliki minuman khas wedang uwuh dan wedang secang. “Banyak sekali, dan itu makanan khas dari desa masing-masing,” kata Dewi.

Dari menjual makanan khas desa ini, selain dari potensi wisatanya, desa juga bisa meningkatkan pendapatan asli daeah (PAD) dari sektor makanan, khususnya UMKM yang menjual dan mengolah makanan-minuman khas desa, ketimbang makanan dan minuman yang umum dijual di tempat lain.

“Kalau saya di desa wisata yang sering kita ketemu, kopi kemasan, mie instan, itu mudah dan bisa disajikan tapi tidak ideal, PAD-nya jadi agak turun manakala yang dijual bukan makanan khas dari desa tersebut,” ujarnya.

Untuk yang sifatnya non food namun bisa menunjang penjualan makanan khas desa, juga bisa digali potensinya. Dewi mencontohkan, saat dia diminta pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk mencari potensi ekonomi desa yang terdampak letusan Gunung Sinabung. Dan ternyata di sana ada potensi kopi yang justru rasanya bertambah enak karena terkena abu sinabung.

“Karena pengaruh dari suhu Gunung Sinabung, ternyata ada kopi yang terkena abu, itu tolong kopinya ketika disangrai rasanya luar biasa, justru karena terkena abu Sinabung. Alhamdulillah sekarang kopi Sinabung itu kopinya enak sekali, menjadi something to buy yang blessing in disguise karena terkena abu Sinabung,” jelas Dewi.

Untuk potensi non-food, kata Dewi, desa harus pandai-pandai memanfaatkan potensi yang ada. Misalnya, di Bantul menjual potensi air baik untuk wisata maupun memproduksi air minum kemasan. “Di Bantul ada air namanya Banyu. Di Kulonprogo ada Airku. Di Gunung Kidul, ada air khasnya sendiri,” papar Dewi.

Desa juga bisa menjual potensi ‘ndeso’-nya berupa kerajinan, seperti desa yang khas karena merupakan desa produsen kerajinan wayang kulit, selain ada potensi wisata alamnya. “Yang non-food pandai-pandainya kita memanfaatkan apa yang ada di desa,” tegas Dewi.

Untuk promosi, ujar dia, desa juga bisa memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada seperti media sosial dengan memanfaatkan kebiasaan ‘netizen’ Indonesia yang biasa mempromosikan suatu tempat yang dinilainya ‘asyik’. Juga para seniman yang bisa membuat lagu tentang sebuah daerah ‘nge-hit.

“Misalnya, Mas Didi Kempot (almarhum-red), yang membuat ‘stasiun solo balapan’ dan ‘tirtonadi’ menjadi sesuatu yang nge-hit,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.