Turiman Pajale Jadi Andalan Dongkrak Produksi dan Harga

Tanaman jagung siap panen (villagerspost.com/nanang susanto)

Jakarta, Villagerspost.com – Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat berhasil mengembangkan sistem tanam tumpang sari padi, jagung, kedelai (Turiman Pajale) untuk mendongkrak produksi pajale sekaligus menjaga harga komoditas tetap baik. Ujicoba Turiman Pajale itu berhasil dilaksanakan di Desa Pangeureunan, Balubur Limbangan, Garut, Jawa Barat.

Peneliti BPTP Jawa Barat Nana Sutrisna mengatakan, Turiman Pajale di Pangereunan dilaksanakan di lahan kering seluas 2000 hektare. “Kami berpikir kalau semua hanya tanam jagung, nanti saat panen raya berlangsung harga bisa jatuh. Tumpang sari sistem Turiman ini bisa menjadi solusi,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (23/2).

“Minimal kalau di sini sudah ada pajale atau padi, jagung kedelai, nanti kalau harga jagung turun, petani masih ada padi dan kedelai, harganya bisa lebih tinggi,” tambah Nana.

Nana mengatakan, perbedaan Turiman ini dengan tumpang sari biasa adalah pada input teknologi seperti varietas unggul baru, pupuk hayati ataupun pupuk mikro. “Teknologi yang mendukung Turiman, yang pertama adalah Varietas, Kita pilihkan Varietas yang cocok untuk lahan kering di sini, yaitu padi Inpago 11, untuk jagung, nasa 29 atau nakula sadewa yang diluncurkan Pak Jokowi dahulu, Kedelainya anjasmoro,” paparnya.

Untuk pupuk digunakan pupuk Hayati yang bisa menahan kalium. Selain itu aplikasi pupuk mikro juga diterapkan, karena menurut Nana, biasanya di lahan kering pupuk mikronya kurang. “Alhamdulillah, karena ada pupuk mikro meski bapak dan Ibu di sini sempat terkena hama daunnya bolong-bolong pada Kedelai, tetapi hasil Kedelainya tetap banyak,” jelas Nana.

Turiman telah diterapkan pada demplot seluas 1 Ha di lokasi tersebut sejak November 2020. Wawan, salah satu petani mengaku senang lahan miliknya yang selama ini hanya ditanami jagung kini mulai ditanami kedelai dan padi gogo.

Wawan pun mengaku tak sabar menunggu hasil panen yang diperkirakan akan berlangsung Maret mendatang. “Alhamdulillah, nggak ada yang sulit menerapkan Turiman, dulunya di sini cuma jagung aja, sekarang ada padi sama kedelai, tumbuhnya juga bagus, sempat kena hama tapi tetap bagus, alhamdulillah,” tuturnya.

Kepala BPTP Jawa Barat, Wiratno mengaku akan terus mendorong pengelolaan dan pemanfaatan lahan secara optimal di wilayah tersebut. “Dengan luas lahan jagung mencapai 2.000 Ha, Saya membayangkan disini tidak hanya menghasilkan jagung, tapi Kita manfaatkan limbahnya untuk diolah jadi pakan sapi. Dengan begitu, selain lahan menjadi maksimal menerapkan Turiman, ekonomi bapak dan Ibu juga bisa bertambah,” ujarnya.

Sementara, Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry menegaskan, BPTP adalah ujung tombak diseminasi dan transfer teknologi hasil-hasil penelitian. “Diseminasi varietas unggul baru termasuk jagung NASA-29 kepada petani, teknologi tumpang sari tanaman (Turiman) padi, jagung, dan kedelai harus terus digencarkan,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *