Utang PTPN Mencapai Puluhan Triliun, Komisi IV Dorong Restrukturisasi Bisnis Gula

Pabrik gula tua di Solo (dok. bekraf.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina menilai, restrukturisasi bisnis gula saat ini sangat mendesak dilakukan. Hal ini mengingat utang di grup PTPN Gula yang sudah mencapai puluhan triliun rupiah.

“Total utang Grup PTPN bahkan mencapai Rp48 triliun per tahun 2020 yang membuat Menteri BUMN melakukan perombakan besar. Kan jadi pertanyaan besar, gula selalu memiliki permintaan tinggi, tapi masih terdapat kerugian yang cukup signifikan,” kata Nevi, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (23/6).

Ini, kata dia, menandakan bisnis gula tidak menguntungkan bagi PTPN sehingga PTPN Gula masih saja mengalami kerugian. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan PTPN III (Persero) yang membahas restrukturisasi bisnis gula di lingkungan PTPN Gula dalam rangka mendukung swasembada Gula, Nevi sempat mempertanyakan bagaimana PTPN menjalankan bisnis gula pasca pengucuran Penyertaan Modal Negara (PMN).

Politikus PKS ini, salah satunya, meminta keterangan kepada PTPN III, bagaimana cara memaksimalkan kinerja yang efektif dan efisien hingga menghasilkan kontribusi keuntungan bagi negara, setelah perusahaan pelat merah ini menerima PMN. Diketahui, per 10 November 2020, PTPN menjadi salah satu BUMN penerima suntikan modal pada tahun 2020 mencapai Rp4 triliun.

Adapun berkaitan dengan upaya restrukturisasi bisnis yang dilakukan PTPN III, Nevi meminta agar memastikan dengan betul-betul, terkait dengan aturan atau regulasi yang menaunginya. Sehingga di kemudian hari, katanya, tidak ada kekahwatiran pelanggaran regulasi pengalihan aset perusahaan dalam rangka restrukturisasi PTPN Gula.

“PTPN III selaku holding milik negara yang akan melakukan restrukturisasi, mesti memastikan adanya prinsip good corporate governance (GCG). Misalnya proses divestasi saham dalam rangka restrukturisasi PTPN Gula. Ketika semua niatan dan pelaksanaan didasari dengan kebaikan, mudah-mudahan kedepannya akan mendapati hasil yang sesuai harapan tanpa penyimpangan,” urai Nevi.

Nevi mengingatkan, segala upaya kebaikan yang mesti dilakukan PTPN III mesti mengarah pada tujuan swasembada gula. Hingga saat ini, importasi gula terus perlangsung. Di kuartal-I tahun 2021 ini pun, importasi gula masih ada terutama untuk memenuhi kebutuhan gula di lingkungan industri makanan dan minuman.

Dikatakannya, persoalan pabrik gula yang mulai menua dan semangat petani tebu sebagai komponen utama produksi gula mesti ada perbaikan termasuk kecukupan luasan lahan untuk tanam tebu. Dengan terbentuknya holding perusahaan gula milik negara, rakyat Indonesia menaruh harapan besar akan ada perubahan dalam pemenuhan gula di masyarakat dengan harga wajar dan produk yang berkualitas.

“Swasembada Gula adalah harapan besar kepada PTPN III selaku perusahaan negara yang menangani gula. Selama upaya yang dilakukan untuk rakyat banyak dan memberi kontribusi kepada negara, tidak ada alasan untuk menghalangi. Ketika negara sudah mampu tidak impor gula, merupakan sebuah prestasi sangat besar yang selama ini tidak pernah dilakukan sejak orde baru hingga saat ini,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *