Warga Parbulu Kecewa, Laporan Mereka Soal Pencemaran Oleh PT TPL tak Direspons Mabes Polri

Kawasan hutan di sekitar Danau Toba yang rusak (dok. ksppm)

Medan, Villagerspost.com РWarga Parbulu, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, kecewa dengan sikap Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri yang tak merespons pengaduan mereka terkait kasus dugaan pencemaran limbah PT Toba Pulp Lestari di desa mereka. Perwakilan warga, Pdt. Faber Manurung mengatakan, warga desa sebenarnya telah melakukan audiensi dengan pihak Bareskrim Polri pada Selasa (8/6) lalu.

Mereka diterima oleh Direktur Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Bareskrim Polri Brigjen Pol Pipit Rismanto dan Kombes Dr. Teddy JS Marbun, SH, M.Hum. Dalam pertemuan tersebut, warga melaporkan soal pencemaran limbah di desanya oleh PT Toba Pulp Lestari. “Saat ini, tanah, air dan udara di desa Parbulu sudah sangat tercemar limbah PT Toba Pulp Lestari. Makanya kami minta Bareskrim untuk selidiki perusahaan itu,” kata Pdt. Faber, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (11/6).

Sayangnya, kata Pdt. Faber, pihak Bareskrim belum juga melakukan penyelidikan. “Pihak Bareskrim malah bilang laboratorium mereka nggak bisa dipakai karena rusak. Setingkat Bareskrim Mabes Polri aja seperti itu?” ujarnya.

“Kemana lagi kami harus melapor? Berapa lama lagi penderitaan rakyat harus dibiarkan, siapa yang harus menjamin dan bertanggung jawab atas kesehatan dan nyawa yang menjadi taruhannya? ujar Pdt. Faber.

Selain mengadu ke Bareskrim, Pdt. Faber Manurung dan warga Parbulu juga menggalang dukungan melalui petisi di Change.org agar Sukanto Tanoto sebagai pemilik PT Toba Pulp Lestari segera mengatasi masalah limbahnya. Petisi #Tindak Limbah Berbahaya itu hingga kini sudah didukung lebih dari 5.000 orang.

Salah satu pendukung petisi, Tommy Sihombing berkomentar: “Pencemaran lingkungan Danau Toba akibat limbah TPL sudah tidak dapat ditolerir, terlebih program Danau Toba sebagai super prioritas wisata“.

Harry Aditya, pendukung petisi lainnya juga mengatakan: “Jangan apa-apa demi infrastruktur dan pembangunan tetapi menghancurkan adat sosial dan lingkungan. Keberlangsungan alam semesta harus lebih diutamakan ketimbang ekonomis“.

Juga dari warga sekitar PT Toba Pulp Lestari, Akbar Malik Abdurrahman ikut bersuara. “Saya orang batak Toba, kampung saya di sana. Sedih rasanya mendengar berita semacam ini karena PT tersebut tak begitu jauh dari kampung halaman saya. Apalagi mendengar kabar bahwa PT tersebut melakukan perampasan lahan, perusakan lingkungan, perampasan hak bekerja. Jelas saya tidak terima dan sangat setuju dengan gerakan ini agar perusahaan tersebut segera membenahi masalah ini“.

Pdt Faber Manurung menuturkan, masalah limbah ini menambah sederet masalah yang melibatkan PT Toba Pulp Lestari. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tano Batak, Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Jikalahari, sebelumnya membuat kajian tentang konflik agraria dengan masyarakat adat di konsesi PT Toba Pulp Lestari.

“Saya berharap PT Toba Pulp Lestari segera ditindak dan ditertibkan. Karena banyak menimbulkan kerugian. Anak-anak dan keluarga kami yang lain juga banyak yang sakit kulit karena limbah mereka. Kami akan terus bersuara dan bergerak sampai ada perubahan, demi anak cucu warga batak Toba,” pungkas Pdt Faber Manurung.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *