Waspada Racun Plastik, Pemerintah Diminta Tegas

Kegiatan bersih-bersih sampah di kawasan pantai di Bali (dok. kkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Pendiri Indonesian Solid Waste Association Sri Bebasari mengatakan, masyarakat perlu mengetahui cara pakai dan cara buang atas pemanfaatan plastik. Pengetahuan ini penting mengingat, masyarakat saat ini tidak bisa lepas dari ketergantungan pada plastik dalam kehidupan sehari-hari.

“Mengetahui cara pakai dan cara buang plastik penting, sehingga tidak berdampak pada kesehatan kita sebagai konsumen plastik dan konsumen pangan berkemasan plastik, sekaligus agar sampah plastik tidak merusak lingkungan hidup,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (1/4).

Hal senada disampaikan Amalia S Bendang seorang Gen-Z relawan Indonesian Solid Waste Association. “Kedekatan kita pada plastik menuntut langkah bijak kita untuk memperlakukan plastik sesuai dengan karakteristik kimia dan fisikanya, agar kita bisa meminimalkan risiko dari potensi toxic atas penggunaan plastik tersebut,” ujarnya.

“Selain bijak pula memperlakukan plastik paska penggunaan sampah plastik sehingga tidak mencemari lingkungan kita,” tambahnya.

Riset menunjukkan, plastik mengandung potensial toxic (racun) selain menjadi sampah yang mengganggu estetika, kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup. Pembagian jenis plastik untuk kemasan pangan misalnya, sudah diatur sedemikian rupa oleh BPOM.

BPOM mewajibkan produsen plastik dan atau produsen pangan berkemasan plastik untuk menginformasikan kepada konsumen bagaimana perlakuan seharusnya atas berbagai jenis plastik. Tujuannya, agar konsumen bisa terhindar dari risiko terpapar racun dari potensial leaching (pelindian) dan atau peeling (pengikisan) plastik yang dapat mengontaminasi pangan.

Terkait hal ini, Ahmad Safrudin dari Zero Waste Consortium menyatakan, para pengambil kebijakan negara hendaknya mampu mengawal agar produksi plastik mengikuti prinsip kehati-hatian, para pihak tidak memasarkan dan atau menggunakan plastik yang mengandung racun.

“Para industriawan harus menjamin bawa plastik yang diperdagangkan, termasuk dalam konteks penggunaan plastik sebagai kemasan pangan, tidak berisiko toxic serta memberikan informasi yang memadai terkait perlakuan seharusnya oleh konsumen atas plastik kemasan pangan tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Budi Hartono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menjelaskan, kontaminasi racun pada plastik bisa berdampak akut seperti sakit kepala, diare, gangguan kulit, iritasi kerongkongan, iritasi mata.

“Racun dari plastik juga bisa berdampak kronis seperti sakit kanker, disfungsi hati, tiroid, gangguan reproduksi, infertilitas, perubahan hormon, penurunan jumlah dan kualitas sperma, radang paru-paru, diabetes, stroke, cardio vascular, hingga kerusakan/mutasi gen,” paparnya.

Budi menegaskan, Peraturan BPOM No 20/2020 tentang Kemasan Pangan harus dilaksanakan sebagai acuan penggunaan plastik sebagai kemasan pangan secara bertanggung jawab. Meskipun ada 7 (tujuh) jenis plastik yang dapat dimanfaatkan sebagai pengemas pangan, namun demikian kewajiban turunannya melekat pada tanggung jawab produsen plastik dan produsen pangan pemanfaat plastik sebagai kemasan.

“Artinya penggunaan plastik yang telah diizinkan BPOM tersebut tetap terikat pada kaidah perlakuan yang tidak mengabaikan kharakterstik fisika kimia dari berbagai jenis plastik tersebut,” tegasnya.

Tujuannya, agar sifat fisika dan unsur kimia dalam plastik tersebut tidak mempengaruhi, tidak terurai, tidak mengalami pelindian, tidak tergerus, tidak terekspose ataupun tidak bermigrasi. Dengan demikian, akan tetap aman dan dalam batas yang bisa ditoleransi bagi masyarakat yang mengonsumsi makanan dan minuman menggunakan kemasan plastik termasuk untuk jangka panjangnya (chronicle effects).

Persyaratan keamanan pangan untuk BPA max 0,01 bpj atau 10 μg/kg atas kemasan berbahan PC (Polycarbonate), tidaklah melepaskan tanggung jawab produsen plastik dan perusahaan pemanfaat plastik kemasan atas potensi lepasnya zat berbahaya. Hal ini mengingat adanya potensi akumulasi zat berbahaya tersebut terutama apabila seseorang mengonsumsi pangan dari beberapa kemasan plastik per harinya.

Apalagi angka di atas berada di atas ketetapan EFSA (Otoritas Keamanan Pangan Eropa) yang berkisar antara 0,004 bpj atau 4 μg/kg. Biarpun angka ketetapan EFSA ini lebih rendah tetap memungkinkan adanya akumulasi migrasi kronis setelah bertahun-tahun apabila perlakuan yang tidak benar atas penggunaan PC tersebut, sehingga berpotensi terakumulasi pada tubuh seseorang.

Karena itu, Zero Waste Consortium merekomendasikan agar pemerintah mengatur lebih detail, dan melakukan monitoring serta law enforcement atas pemanfaatan plastik-plastik yang memiliki unsur berbahaya bagi kesehatan seperti BPA.

Pihak konsorsium juga meminta agar pemerintah menetapkan kebijakan fiskal sebagai mekanisme insentif/disinsentif atas pemanfaatan plastik yang besarannya ditetapkan sesuai derajat toksisitas atas plastik tersebut. “Mekanisme ini bisa seperti carbon trading dalam pengelolaan limbah plastik,” kata Ahmad Safrudin.

Industri, ujar dia, dapat melakukan trading swaps atas sampah plastik kepada industri daur ulang yang melakukan recycle, reuse dan inovasi teknologi dalam industri daur ulang. “Ini bisa menjadi alternatif solusi tanggung jawab industri dalam mengelola sampahnya,” tegasnya.

Agar terbebas dari kepentingan industri global (MNC), Zero Waste Consortium juga merekomendasikan agar Indonesia membuat cara pengelolaan sampah yang digali dari nilai-nilai budaya sendiri, seperti gotong royong, sistem sedekah sampah, budaya menggunakan tas belanja yang dipakai berulang, dan lainnya.

Zero Waste Consortium juga mendesak pemerintah melalui BPOM bekerja sama dengan Universitas dan Organisasi Masyarakat Sipil (LSM) melakukan penelitian terkait plastik yang berpotensi membuat masyarakat terpapar B3.

Ahmad Safrudin mengatakan, pemerintah, Organisasi Masyarakat Sipil dan terutama produsen plastik serta perusahaan-perusahaan pemanfaat plastik sebagai kemasan pangan wajib melakukan edukasi dan penyampaian informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat.

“Terutama kepada ibu menyusui, ibu hamil dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap sakit/penyakit akibat terkontaminasi zat berbahaya dari plastik seperti bayi dan balita, penderita kanker dan lainnya, terkait cara aman agar terhindar dari paparan B3, khususnya dari plastik kemasan yang mengandung B3,” pungkas Ahmad.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *