Wujudkan Swasembada Beras, Kementan Siap Antisipasi Hama, Banjir dan Kekeringan

Lahan sawah di Nabire Papua (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)
Lahan sawah di Nabire Papua (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah saat ini tengah berupaya untuk bisa mewujudkan swasembada pangan khususnya komiditi padi. Hal itu coba diwujudkan salah satunya lewat program Upaya Khusus (UPSUS). Dengan program itu, Kementerian Pertanian terus melakukan berbagai upaya pengendalian terhadap serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) alias hama dan penanganan terhadap bencana banjir dan kekeringan.

Upaya yang dilakukan diantaranya melakukan pengendalian OPT utama pada tanaman padi seluas 362.617 hektare, mengirim surat peningkatan kewaspadaan dan antisipasi serta prakiraan awal Musim Kering (MK) tahun 2015 kepada Gubernur seluruh Indonesia dan realisasi pelaksanaan penerapan PHT skala luas pada tanaman padi sampai bulan Mei 2015 sebanyak 1 unit (10 ha) atau mencapai 4,00 persen dari rencana 25 unit (250 ha).

Plt. Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan Pending Dadih Permana mengatakan, lewat program-program tersebut, diharapkan, lahan padi petani dapat terjaga produksinya bahkan memberikan produksi yang meningkat.

“Tak hanya itu, Kementan juga meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait serta melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin terhadap perkembangan luas serangan OPT, banjir dan kekeringan. Lebih jauh, guna mewujudkan daulat benih atau mengurangi ketergantungan benih di antara daerah, Kementan juga melakukan penyerahan Cadangan Benih Nasional (CBN),” kata Dadih seperti dikutip pertanian.go.id, Jumat (22/5).

Berdasarkan laporan dari Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi seluruh Indonesia yang diterima Kementan tanggal 7 Mei 2015, pada Musim Hujan (MH) 2014/2015 (Oktober-Maret), luas lahan padi yang mengalami puso (gagal panen) karena serangan serangan OPT, banjir dan kekeringan mencapai seluas 358 ha. “Dengan kata lain, sebesar 0,03 persen dari luas tanam sebesar 1.397.931 hektare,” kata Dadih.

Dadih Permana lebih lanjut menjelaskan, luas puso tertinggi pada periode tersebut disebabkan karena banjir yakni seluas 342 ha (0,41 persen dari luas tanam 1.397.931 ha) yang terjadi terutama di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Kemudian karena kekeringan yakni seluas 15 ha (0,001 persen dari luas tanam 1.397.931 ha) terjadi di Provinsi D.I Aceh.

“Sedangkan puso yang disebabkan karena OPT yakni seluas 1 ha (0,00 persen dari luas tanam 1.397.931 ha) terjadi di Provinsi Jawa Timur,” tambahnya.

Sementara itu, pada Musim Kemarau (MK) 2014 yang berlangsung pada bulan April hingga September, luas areal padi yang mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan yakni seluas 40.448 ha (0,50 persen dar luas tanam 8.043.639 ha).

Adapun luas puso terbesar pada periode tersebut yakni disebabkan karena banjir seluas 34.221 ha (0,43 persen dari luas tanam 8.043.639 ha) yang terjadi pada bulan Desember terutama di Provinsi D.I Aceh, Jawa Timur dan Banten. Luas puso terbesar.

Selanjutnya, puso disebabkan karena kekeringan seluas 5.890 ha (0,07 persen dari luas tanam 8.043.639 ha) yang luas puso terbesarnya terjadi pada bulan Oktober terutama di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Jawa Tengah.

“Sedangkan puso karena OPT seluas 337 ha (0,004 persen dari luas tanam 8.043.639 ha) yang luas puso terbesarnya terjadi pada bulan Desember terumata di Provinsi Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Banten,” paparnya.

Untuk informasi, pada tahun 2015 yang berlangsung pada bulan Januari hingga April, luas areal padi yang mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan yakni seluas 13.677 ha (0,27 persen dari luas tanam 4.991.038 ha).

Luas puso terbesar pada periode tersebut yakni disebabkan karena banjir seluas 13.518 ha (0,27 persen dari luas tanam 4.991.038 ha), dimana luas puso terbesarnya terjadi pada bulan Februari terutama di Provinsi Banten, Jawa Timur, dan Lampung.

Kemudian, puso yang disebabkan karena OPT seluas 86 ha (0,002 persen dari luas tanam 4.991.038 ha) yang puso terbesarnya terjadi pada bulan Februari terutama di Provinsi Gorontalo, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara.

“Terakhir, puso disebabkan karena kekeringan seluas 73 hektare atau 0,0001 persen dari luas tanam 3.593.107 ha, dimana luas puso terbesarnya pada bulan Maret terutama terjadi di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara,” jelas Dadih.

Sebagai data pembanding, lanjut Dadih, luas areal padi terkena puso karena OPT, banjir dan kekeringan tahun 2014 pada periode Januari-Desember mencapai seluas 178.892 ha dari luas tanamnya 13.569.481 ha. Adapun luas puso terbesar pada periode tersebut disebabkan karena banjir seluas 141.045 ha, dimana luas puso terbesarnya terjadi pada bulan Januari terutama di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Aceh.

Puso yang disebabkan karena kekeringan seluas 35.423 ha, dimana luas puso terbesarnya terjadi pada bulan September terutama di Provinsi Kalimantan Barat, Aceh dan Jawa Tengah. Selanjutnya, puso karena OPT yakni seluas 2.424 ha, dimana luas puso terbesarnya terjadi pada bulan Juli terutama di Provinsi Jawa Tengah, Sumatera Selatan dan Banten. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *