Serbuk Arang Aktif untuk Pakan Ikan

Petani memanen ikan dari tambak. Arang aktif bisa digunakan sebagai tambahan pakan ikan (dok. sijunjungkab.go.id)
Petani memanen ikan dari tambak. Arang aktif bisa digunakan sebagai tambahan pakan ikan (dok. sijunjungkab.go.id)

Villager’s Forum – Pemanfaatan serbuk arang dalam budidaya ikan ternyata tak hanya sebatas sebagai sarana filterisasi air. Serbuk arang ternyata juga bisa digunakan untuk campuran pakan ikan untuk meningkatkan kesehatan ikan dan udang budidaya. Arang teraktivasi atau arang aktif berbeda dari arang biasa, berdasarkan kemampuan penyerapannya. Daya serap arang meningkat setelah dimurnikan dari berbagai pengotor dan diperluas pori-porinya melalui pemanasan tinggi dan penggunaan bahan kimia.

Penggunaan arang aktif dalam penyaringan air untuk keperluan akuakultur telah dikenal luas. Namun, belum ada laporan atau tulisan yang menunjukkan pemanfaatan arang aktif jenis serbuk (powdered activated charcoal/PAC) untuk campuran pakan ikan. Partikel serbuk arang aktif berukuran 0,17—0,27 µm. Sementara ukuran di atasnya, sampai 2 mm, disebut granulated activated charcoal. Luas permukaan yang dihasilkannya dapat mencapai 500—1.500 m2/g.

Selain untuk filter, serbuk arang juga memiliki fungsi sebagai obat. Dengan kemampuannya menyerap racun dan bahkan mikroorganisme, serbuk arang dapat digunakan dalam pengobatan. Serbuk arang aktif dapat ditambahkan ke dalam pakan untuk menyerap racun akibat serangan bakteri pada usus biota budidaya.

Serbuk arang aktif dilaporkan dapat mengurangi efek penyakit berak putih (white feses desease) pada udang Vaname. Hal ini dilakukan dengan cara, serbuk arang aktif ditambahkan pada pakan dengan perekat seperti kanji, alginat, dan putih telur. Dosis serbuk arang aktif yang diberikan berkisar 1—4 %.

Serbuk arang aktif juga dapat dimanfaatkan sebagai suplemen pakan untuk pembesaran ikan. Pengamatan jaringan epitel usus menunjukkan bahwa mikrofili usus ikan yang diberi pakan bersuplemen arang aktif lebih berkembang dibanding kontrol. Mikrofili pada usus ikan yang diberi arang aktif lebih panjang dan meluas. Hal ini akan meningkatkan daya serap usus terhadap nutrisi sehingga berefek pada menurunnya FCR.

Preparat jaringan usus ikan nila dengan pewarnaan HE, perbesaran 400x. (A) 3% arang aktif, (B) 1,5% arang aktif, (C) kontrol. Mekanisme yang mendasari fenomena ini belum begitu jelas. Diduga, serbuk arang aktif menyerap mukus yang digunakan bakteri dalam pembentukan lapisan biofilm di permukaan epitel. Dengan begitu, jalur masuk nutrisi tidak terhalangi. Dugaan lain, serbuk arang aktif menyerap bakteri usus sehingga pemanfaatan pakan oleh bakteri menjadi berkurang. Pengamatan isi usus menunjukkan bahwa arang berukuran kecil, 50—150 µm, banyak tertinggal di dalam fili usus.

Pengamatan pada kotoran usus menunjukkan banyaknya pakan alami seperti fitoplankton dan rotifer. Warna kotoran juga lebih hijau dan kompak. Kualitas air pun menjadi lebih baik. Terlihat dari nilai total amoniak nitrogen yang lebih rendah.

Percobaan pada pendederan ikan nila menunjukkan turunnya FCR. Ikan nila dengan berat awal sekitar 7 g dipelihara selama 40 hari dengan pakan berprotein rendah (17%). Serbuk arang aktif dimasukkan dalam formula pakan dengan dosis 1,5—3%. Hasilnya, diperoleh SR 100% dan FCR turun menjadi lebih rendah sebesar 0,2 dibanding kontrol.

Pembesaran ikan nila di kolam semen menunjukkan bahwa pemberian serbuk arang aktif sebanyak 1,5% pada pakan dapat diperoleh FCR 1. Ikan nila dipelihara dalam kolam semen berukuran 150 m2 dengan kepadatan 30 ekor/m2 dan dipanen dengan ukuran 8—10 ekor/kg. Dengan cara ini diperoleh kelangsungan hidup ikan nila sekitar 85% selama pemeliharaan 3,5 bulan. Caranya, serbuk arang aktif 1,5% dan kanji 1,5% dicampur air sebanyak 10%, lalu dipanaskan. Bubur ini diaduk dengan pakan lalu diangin-anginkan. Persentase dihitung dari berat pakan.

Sumber: kkpnews.go.id

Facebook Comments
9 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *