Sedekah Bumi Kampung Darim, Mewariskan Ruh Pertanian Kepada Generasi Muda | Villagerspost.com

Sedekah Bumi Kampung Darim, Mewariskan Ruh Pertanian Kepada Generasi Muda

Masyarakat Kampung Darim melaksanakan sedekah bumi, sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen musim lalu dan tanda dimulainya musim tanam yang baru (villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Indramayu, Villagerspost.com – Rabu (10/10) pagi, Kampung Darim, Indramayu, Jawa Barat, mendadak semarak. Arak-arakan nasi tumpeng yang dihiasi dengan berbagai hasil bumi dari hasil panen di Kampung Darim. Bahkan, kaum ibu di kampung tersebut, dari semenjak malam hari hingga pagi hari tampak sibuk mempersiapkan makanan di dapur umum.

Hari itu, di Kampung Darim memang tengah digelar sebuah acara yang sangat khidmat bagi para petani, yaitu sedekah bumi. Tak heran, jika seluruh elemen masyarakat menyambut antusias acara tersebut.

“Sedekah bumi atau sodaqoh kepada bumi, selain adat budaya yang dipegang kebanyakan petani di Kabupaten Indramayu juga sebagai ajang mempererat tali silaturahmi dan semangat kebersamaan antar sesama masyarakat Kampung Darim maupun masyarakat lainnya,” kata Dulkhasan, sesepuh Kampung Darim.

Dulkhasan mengatakan, makna lain yang terkandung dalam adat sedekah bumi adalah semua masyarakat petani kumpul dalam satu acara untuk menentukan ditetapkannya musim tanam kesatu (MT1) yang menurut perhitungan pratamangsa Jawa, warisan nenek moyang petani, jatuh pada bulan Oktober atau pada Mangsa Kapat. Pranatamangsa sendiri mengnal adanya 12 mangsa atau waktu dalam dalam hitungan setahun.

Dia menjelaskan, meski terkesan tak ilmiah, sebenarnya perhitungan pranatamangsa menggunakan ilmu pengetahuan dan metodologi tertentu yang dipakai untuk mengetahui mangsa-mangsa atau waktu di setiap pergantian atau akhir mangsa-nya, berdasarkan gejala-gejala yang ditunjukkan alam. Salah satunya dalam menentukan awal musim tanam.

“Biasanya salah satunya ditandai dengan cuaca yang sangat panas di luar tetapi pada dasar bumi mulai dingin, itu bisa diketahui dengan melihat tanda alam berupa tanaman kapuk yang buahnya pecah dan berguguran siap untuk dipanen dan tanaman keras seperti umbi-umbian daunnya sudah mulai tumbuh,” terang Dulkhasan.

Masyarakat berfoto bersama usai pelaksanaan acara sedekah bumi (villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Dia berharap, dengan acara digelarnya acara sedekah bumi ini, ke depan pertanian di Kampung Darim khususnya, dan Kabupaten Indramayu umumnya bisa subur makmur. “Semoga sejahtera petaninya, seperti pepatah subur kang pinandur, murah kang pinuku, gemah ripah loh jinawi, baldatun toyibatun wa robbun gofur,” ujar Dulkhasan.

Acara sedekah bumi di Kampung Dari dimulai dengan penyerahan secara simbolis cangkul dan pedangan oleh Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Prof. Dwi Andreas Santosa. Acara kemudian dilanjutkan dengan lantunan adzan sebagai pertanda akan dimulainya prosesi adat “labu macul” dan “ngarak tumpeng” keliling Kampung Darim.

Rangkaian acara itu ditujukan untuk mengingatkan kepada masyarakat lainnya pada mangsa kapat dalam perhitungan pranatamangsa Jawa akan dimulai kembali masa tanam rendengan (musim tanam) satu.

Doa-doa serta salawat dilantunkan pada acara “ngarak tumpeng” dengan diiringi pukulan kentongan dari bambu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberkahan hasil bumi yang meliputi pertanian, perkebunan, dan peternakan. Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cangkul di pelataran Buyut Asti Pendawa kepada Ketua Gerakan Petani Nusantara Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, sebagai penanda prosesi acara adat labu macul dan ngarak tumpeng telah selesai dilaksanakan. Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi kumpul tumpeng.

Dalam kesempatan itu, Hermanu yang juga pakar proteksi tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) mengapresiasi terlaksananya acara sedekah bumi di Kampung Darim. “Kampung Darim kalau dimana-mana terkenal dengan kampung tua yang tetap memegang adat budaya pertanian. Adat seperti ini (sedekah bumi-red) juga dilakukan setiap tahunnya pada 1 Suro oleh Gerakan Petani Nusantara di mana 1 Suro tahun ini kalau pada perhitungan Jawa disebutkan sebagai tahun B Windu Senggoro Langkir 1952 saka, 1440 Hijriyah, 2018 Masehi,” papar Hermanu.

Menurut Hermanu, Kampung Darim, sebagian besar lahan sawahnya adalah sawah tadah hujan yang mana pada tahun Senggoro Langkir akan banyak kurang hujan. “Ke depan untuk memulai musim tanam diharapkan nanti ketika sudah ada intensitas hujan tinggi, maka dari itu dikarenakan banyak kurang hujan ke depan kita akan dihadapakan pada masa-masa susah pangan. Kita harus banyak berhati-hati tidak boros,” ujar Hermanu.

Di samping itu, kata Hermanu, pada tahun Windu Senggoro Langkir, penyakit hama dan tanaman akan didominasi penyakit seperti lembing batu, wereng, dan virus blas. “Akan tetapi lewat acara sedekah bumi ini sebagai refleksi diri untuk tetap berprasangka baik pada Yang Maha Kuasa agar ke depan dilimpahkan kebaikan oleh Yang Maha Kuasa untuk kita semua,” tegas Hermanu.

Hermanu bercerita, pada tahun B Windu Senggoro Langkir sifat-sifat manusia akan banyak diwarnai oleh cerita Narasoma (tokoh dala cerita Mahabharata yang kelak bergelar Prabu Salya-red) yang gila terhadap harta, tahta dan wanita. Narasoma muda, suka menggunakan berbagai cara untuk memenuhi hasrat tersebut hingga mengorbankan orang-orang terdekatnya.

“Sifat tersebut akan mewarnai diri kita semua untuk itu menghadapi tahun B Windu Senggoro Langkir, kita harus mengganti kata aku, kamu menjadi kita dan pada saat meminta apa pun kepada siapapun jangan lupa mengucapkan kata maaf dan terimakasih setelah mendapatkan sesuatu tersebut,” nasihat Hermanu.

Sementara itu, Guru Besar IPB yang juga Ketua Umum AB2TI Prof. Dwi Andreas Santosa dalam sambutannya juga memberikan banyak gambaran terkait budaya tani. “Budaya pertanian kita sedikit demi sedikit terkikis karena arus globalisasi yang tak terbendung baik itu budaya maupun ekonomi dominasi pangan impor yang diproduksi oleh para petani petani luar negeri begitu meng-hegemoni pangan kita,” ujarnya.

“Untuk itu, lewat acara sedekah bumi Kampung Darim diharapkan, kedepan nilai hakiki dan luhur budaya tani yang telah diwariskan oleh leluhur kita ratusan tahun yang lalu yang mulai tercabut dari akar budaya kembali kita kuatkan, perkokoh kembali,” tegasnya.

Senada yang diucapkan Hermanu, Andreas mengatakan, anggota AB2TI juga menjadikan kata aku , kamu menjadi kita untuk melandaskan rasa kebersamaan ketimbang “ke-aku-an” dalam menghadapi masa-masa sulit Sebagai penutup Andreas membacakan narasi dari kesepuhan Jawa Barat untuk Kampung Darim.

Tanah adalah ibu yang memberikan kita makan untuk kehidupan.
Ibu adalah mahluk sehingga ibu harus di hargai di perlakukan dengan sopan dan di kelola dengan arif.
Tanah tidak boleh diracuni supaya ia tetap hidup dan terus melakukan hak dan kewajibannya sebagai ibu.

Tanah harus selalu mendapatkan petunjuk dari bapak, yaitu langit.
Tanah dan langit adalah tanda kehidupan yang saling memberi makna bagi keberlanjutan.

Seperti pesan leluhur, gunung lahur kayuan, lamping gawe awian, legok balongan, lebak sawahan, dan datar imahan.

Benih adalah anak.
Ia harus dididik dan di perlakukan dengan baik.
Disapih dan ditimang seperti bayi.
Dijaga supaya menjadi induk yang baik, dihormati supaya selalu beuner.

Jangan dibiarkan terlalu berpanas dan bermain di tengah hari.Benih harus ditinggikan dan digantung.
Anak kudu mukim di Leuit Benih asa naraskeun hirup“.

Sebagai penutup Andreas menyampaikan: “Selamat merayakan pertanian sebagai budaya.” (*)

Laporan/Foto: Zaenal Mutaqien, Petani Muda Desa Muntur, Losarang, Indramayu, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *